Asuhan Keperawatan Maternitas Klien Dengan Plasenta Previa


BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
            Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam rangka memperbaiki hidup manusia, perlu dimulai sejak dini yaitu sejak masih berada dalam kandungan (GBHN, 1996)
            Dewasa ini profesi keperawatan dihadapkan pada persiapan memasuki era globalisasi dimana perkembangan yang pesat dibidang kedokteran dan keperawatan. Profesi keperawatan semakin dituntut untuk mampu memberi pelayanan keperawatan di segala bidang, termasuk keperawatan maternitas, untuk menurunkan angka kelahiran dan kematian ibu serta bayi. Di Indonesia angka kematian ibu (AKI) adalah antara 307 per 100 ribu kelahiran hidup, dan merupakan peringkat pertama di Asia Tenggara. Angka kematian ibu disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : perdarahan, infeksi, dan toksemia gravidarum. Dari ketiga faktor tersebut perdarahan merupakan yang terbanyak menyebabkan kematian ibu. Perdarahan dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain atonia uteria, robekan serviks atau kelainan implantasi placenta (Sastro .2000)
            Sejak usia kehamilan 20 minggu perdarahan kurang lebih terjadi 3 % sampai 4% pada wanita hamil. Penyebab yang paling sering adalah placenta previa dan solusio placenta yang berpotensi fatal bagi ibu maupun janinnya (Scott, Dkk, 2002)
            Dari 167 kelahiran placenta previa lebih sering terjadi pada multipara. Placenta previa total yang menghalangi jalan lahir pada anak hidup tidak bisa lahir normal, tindakan yang dilakukan adalah operasi seksio caesarea.
            Placenta previa totalis memerlukan tindakan seksio sesarea, sedangkan seksio sesarea memiliki komplikasi emboli air ketuban yang dapat terjadi selama tindakan operasi yang mengakibatkan henti jantung dan henti nafas secara       tiba-tiba. Komplikasi lain yang terjadi sesaat setelah operasi seksio sesarea adalah infeksi yang banyak disebut sebagai morbiditas pasca operasi (Adjie, 2005)
            Berdasarkan data statistik rekam medik Rumah Sakit Bethesda Tomohon, pada tahun 2005 yang melahirkan secara seksio sesarea adalah 205 orang. Dan yang mengalami indikasi dengan placenta previa adalah 52 orang.
            Berdasarkan uraian di atas penulis merasa tertarik untuk membuat karya tulis ilmiah dengan judul “ Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Post Seksio Sesarea Atas Indikasi Placenta Previa Totalis”.

B.   Tujuan Penulisan
            Untuk meningkatkan asuhan keperawatan pada penderita dengan Post Seksio Sesarea atas indikasi placenta previa totalis”

C.  Manfaat Penulisan
      1.   Institusi Rumah Sakit
                         Dapat memberikan masukan dan acuan dalam perawatan asuhan keperawatan terutama pada pasien dengan post seksio sesarea dengan indikasi placenta previa totalis.
      2.   Institusi Pendidikan
             Dengan penulisan karya tulis ini diharapkan menjadi masukan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan khusus pada pasien dengan post seksio sesarea atas indikasi placenta previa totalis
      3.   Peneliti
             Dapat menembah pengetahuan dan wawasan yang lebih luas mengenai pelaksanaan asuhan keperawatan terutama pada pasien dengan post  seksio sesarea atas indikasi placenta previa totalis

D.  Metode Penulisan
            Adapun metode yang penulis gunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah melalui langkah-langkah
      1.   Studi Kepustakaan
                         Menggunakan buku-buku yang berhubungan dengan post seksio sesarea atas indikasi placenta previa totalis

      2.   Studi Kasus
                         Melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien post seksio sesarea atas indikasi placenta previa totalis.

      3.   Studi Dokumentasi
                         Mempelajari status pasien berupa catatan tentang keadaan pasien yang dibuat oleh dokter, perawat dan petugas kesehatan lainnya
 
BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
            Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam rangka memperbaiki hidup manusia, perlu dimulai sejak dini yaitu sejak masih berada dalam kandungan (GBHN, 1996)
            Dewasa ini profesi keperawatan dihadapkan pada persiapan memasuki era globalisasi dimana perkembangan yang pesat dibidang kedokteran dan keperawatan. Profesi keperawatan semakin dituntut untuk mampu memberi pelayanan keperawatan di segala bidang, termasuk keperawatan maternitas, untuk menurunkan angka kelahiran dan kematian ibu serta bayi. Di Indonesia angka kematian ibu (AKI) adalah antara 307 per 100 ribu kelahiran hidup, dan merupakan peringkat pertama di Asia Tenggara. Angka kematian ibu disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : perdarahan, infeksi, dan toksemia gravidarum. Dari ketiga faktor tersebut perdarahan merupakan yang terbanyak menyebabkan kematian ibu. Perdarahan dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain atonia uteria, robekan serviks atau kelainan implantasi placenta (Sastro .2000)
            Sejak usia kehamilan 20 minggu perdarahan kurang lebih terjadi 3 % sampai 4% pada wanita hamil. Penyebab yang paling sering adalah placenta previa dan solusio placenta yang berpotensi fatal bagi ibu maupun janinnya (Scott, Dkk, 2002)
            Dari 167 kelahiran placenta previa lebih sering terjadi pada multipara. Placenta previa total yang menghalangi jalan lahir pada anak hidup tidak bisa lahir normal, tindakan yang dilakukan adalah operasi seksio caesarea.
            Placenta previa totalis memerlukan tindakan seksio sesarea, sedangkan seksio sesarea memiliki komplikasi emboli air ketuban yang dapat terjadi selama tindakan operasi yang mengakibatkan henti jantung dan henti nafas secara       tiba-tiba. Komplikasi lain yang terjadi sesaat setelah operasi seksio sesarea adalah infeksi yang banyak disebut sebagai morbiditas pasca operasi (Adjie, 2005)
            Berdasarkan data statistik rekam medik Rumah Sakit Bethesda Tomohon, pada tahun 2005 yang melahirkan secara seksio sesarea adalah 205 orang. Dan yang mengalami indikasi dengan placenta previa adalah 52 orang.
            Berdasarkan uraian di atas penulis merasa tertarik untuk membuat karya tulis ilmiah dengan judul “ Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Post Seksio Sesarea Atas Indikasi Placenta Previa Totalis”.

B.   Tujuan Penulisan
            Untuk meningkatkan asuhan keperawatan pada penderita dengan Post Seksio Sesarea atas indikasi placenta previa totalis”

C.  Manfaat Penelitaan
      1.   Institusi Rumah Sakit
                         Dapat memberikan masukan dan acuan dalam perawatan asuhan keperawatan terutama pada pasien dengan post seksio sesarea dengan indikasi placenta previa totalis.
      2.   Institusi Pendidikan
             Dengan penulisan karya tulis ini diharapkan menjadi masukan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan khusus pada pasien dengan post seksio sesarea atas indikasi placenta previa totalis
      3.   Peneliti
             Dapat menembah pengetahuan dan wawasan yang lebih luas mengenai pelaksanaan asuhan keperawatan terutama pada pasien dengan post  seksio sesarea atas indikasi placenta previa totalis

D.  Metode Penulisan
            Adapun metode yang penulis gunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah melalui langkah-langkah
      1.   Studi Kepustakaan
                         Menggunakan buku-buku yang berhubungan dengan post seksio sesarea atas indikasi placenta previa totalis

      2.   Studi Kasus
                         Melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien post seksio sesarea atas indikasi placenta previa totalis.

      3.   Studi Dokumentasi
                         Mempelajari status pasien berupa catatan tentang keadaan pasien yang dibuat oleh dokter, perawat dan petugas kesehatan lainnya



BAB II
TINJAUAN TEORITIS


A.  Konsep Dasar Placenta Previa
      1.   Pengertian
                   Placenta previa adalah placenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus, sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (Mansjoer, dkk, 2002)
                   Placenta previa totalis adalah apabila setiap bagian placenta secara totalis menutupi osteum uteri internum atau seluruh ostium uteri internum tertutup ketika serviks berdilatasi lengkap (Bobak, dkk 2004)
      2.   Etiologi
                   Penyebab spesifik tidak diketahui pasti, namun placenta previa meningkat pada grande multipara, primigravida tua, bekas seksio sesarea, bekas aborsi, kelainan janin dan leiomioma uteri, ovulasi terlambat, kehamilan ganda (Masjoer, dkk, 2002)
      3.   Patofisiologi
                   Perdarahan antepartum akibat placenta previa terjadi sejak kehamilan 20 minggu saat segmen bawah uterus telah terbentuk dan mulai melebar serta menipis. Umumnya terjadi pada trimester ketiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan, pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks menyebabkan sinus uterus robek Karena lepasnya placenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari placenta. Perdarahan tak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada placenta letak normal
      4.   Perjalanan Klinis
                   Gejala perdarahan awal placenta previa biasanya muncul, sebagai perdarahan bercak atau ringan, berhenti secara spontan dan terjadi berulang-ulang, sebelum partum. Gejala ini kadang-kadang terjadi waktu tidur dan tidak jarang juga pendarahan pervagina terjadi pada saat inpartu. Penderita dengan placenta previa jika di palpasi bagian depan tinggi dan jaringan placenta teraba. Dengan auskultasi denyut jantung janin terdengar. Di bawah ini perdarahan placenta previa pada trimester ketiga berdasarkan usia kehamilan :
             a.    Perdarahan akibat placenta previa bisa terjadi sejak kehamilan 20 minggu
             b.   Kehilangan darah pada perdarahan pertama jarang sekali fatal
             c.    Rata-rata usia kehamilan waktu didiagnosa 32 minggu
             d.   Sepertiga klien memeriksakan diri setelah 36 minggu, disertai dengan peningkatan resiko eongenital, dan Intra Uteri Grouth Retardation (IUGR)
      5.   Pemeriksaan Penunjang
                   Pemeriksaan penunjang sebagai data untuk menunjang diagnosa placenta previa secara pasti dapat dilakukan pemeriksaan :
             a.    USG untuk diagnosa pasti, yaitu menentukan letak placenta
             b.   Pemeriksaan darah : hemoglobin, hematokrit.
      6.   Komplikasi
                   Pada ibu dapat terjadi perdarahan sehingga syok akibat perdarahan, aremia karena perdarahan plasentitis dan endometris pasca persalinan. Pada janin biasanya terjadi persalinan prematur dan komplikasinya seperti asfiksia berat.
      7.   Penatalaksanaan
                   Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi sebelum dirujuk, anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap kekiri, tidak melakukan sanggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut (mis. Batuk, mengedan karena sulit buang air besar)
                   Dalam melakukan rujukan penderita placenta previa sebaiknya dilengkapi dengan :
             *    Pemasangan infus untuk mengimbangi perdarahan
             *    Sedapat mungkin diantar oleh petugas
             *    Dipersiapkan donor darah untuk transfusi darah.

B.   Konsep Dasar Seksio Sesarea
      1.   Pengertian seksio sesarea
                   Seksio Sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina ; atau Seksio Sesarea adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim.
                   Post seksio sesarea adalah keadaan setelah dilakukan seksio sesarea. Istilah seksio sesarea berasal dari kata latin caedare yang artinya memotong. Pengertian ini semula dijumpai dalam roman law (lexregia) emperow es law (lex sesarea) yaitu undang-undang yang menghendaki supaya janin dalam kandungan ibu-ibu yang meninggal harus dikeluarkan dari dalam rahim.
      2.   Indikasi
             Pada ibu     :  Placenta previa, panggul sempit, disproporsi sefalo-pelvix yaitu ketidakseimbangan antara ukuran kepala dengan panggul, ruptura uteri yang mengancam, partus lama (prolongedlabor), partus tak maju (obstructed labor) distosia serviks, preeklamsi           
             Pada janin  :  Letak lintang, letak bokong, gawat janin (presentasi dahi dan muka, (letak defleksi) bila reposisi dengan cara-cara lain tidak berhasil.
3.       Komplikasi
      Pada ibu     : 1.   Infeksi puerperal (nifas) ringan dengan kenaikan suhu beberapa hari saja sedang kenaikan suhu yang lebih tinggi disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung. Berat dengan peritonitis sepsis dan illeus paralitik, hal ini sering kita temui pada partus terlantar dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intraportal karena ketuban yang pecah terlalu lama ; penanganannya adalah dengan pemberian cairan elektrolit dan antibiotika yang adekuat dan tepat
                                  2.   Perdarahan banyak timbul jika cabang-cabang arteri uterina terbuka atau karena atonia uteri.
                                  3.   Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih
                                  4.   Suatu kompliksi yang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri.
             Pada janin  :  Keadaan janin tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan seksio sesarea (Mochtar ,1998)
      4.   Perawatan post seksio sesarea
             a.    Tempat Perawatan
                        Setelah tindakan dikamar operasi selesai, penderita dipindahkan dalam kamar rawat khusus (recovery room) yang dilengkapi dengan alat pendingin kamar udara selama beberapa hari. bila pasca bedah keadaan penderita gawat, segera pindahkan ke unit perawatan darurat (intensive care unit) untuk perawatan bersama-sama dengan unit anastesi, karena disini perawatan untuk menyelamatkan penderita lebih lengkap.
                        Setelah beberapa hari dirawat di dalam kamar rawat khusus atau pada unit perawatan darurat dan keadaan penderita mulai pulih, barulah dipindahkan ketempat penderita semulah dirawat. disini perawatan luka dan pengukuran tanda-tanda vital penderita dilanjutkan seperti biasa.
             b.   Mobilisasi
      `                 Mobilisasi segera tahap demi tahap sangat berguna untuk membantu jalannya penyembuhan penderita. kemajuan mobilisasi bergantung pula pada jenis-jenis operasi yang dilakukan dan komplikasi yang mungkin dijumpai. secara psikologis hal ini memberikan pula kepercayaan pada si sakit bahwa dia mulai sembuh. perubahan gerakan dan posisi ini harus diterangkan kepada penderita atau keluarga yang menungguinya, yaitu :
                   1.  Miring kekiri dan kekanan sudah dapat dimulai sejak 6-10 jam setelah penderita sadar
                   2.  Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur terlentang sedini mungkin setelah sadar
                   3.  Pada hari kedua penderita dapat duduk selama 5 menit dan dimintah untuk bernafas dalam, lalu menghembuskannya disertai batuk-batuk kecil
                   4.  Posisi tidur terlentang dirubah menjadi setengah duduk (semi fowler)
                   5.  Secara berturut-turut, hari demi hari penderita dianjurkan belajar duduk selama sehari.
                   6.  Belajar berjalan dan kemudian berjalan sendiri pada hari ke 3 sampai 5 pasca bedah.
                        Mobilisasi berguna untuk mencegah terjadi trombosis dan emboli. sebaliknya, bila terlalu dini melakukan mobilisasi dapat mempengaruhi penyembuhan luka operasi. sehingga mobilisasi secara teratur dan bertahap serta diikuti dengan istirahat adalah yang paling dianjurkan.
             c.    Perawatan Rutin
                        Setelah selesai operasi, dokter bedah dan anastesi telah membuat rencana pemeriksaan rutin (check-up) bagi penderita pasca bedah yang diteruskan kepada dokter atau paramedik jaga baik dikamar rawat khusus maupun setelah tiba diruangan atau kamar tempat penderita dirawat.
                        Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan dan pengukuran diukur adalah :
                   *   Tekanan darah
                   *   Jumlah nadi per menit
                   *   Jumlah cairan yang masuk dan keluar (urine)
                   *   Suhu badan
`                  *   Pemeriksaan lainnya menurut jenis operasi dan kasus
                        Pemeriksaan dan pengukuran tersebut sekurang-kurangnya dilakukan setiap 4 jam sekali dan dicatat dalam status penderita.
             d.   Diit
                        Oleh karena kemajuan yang pesat dalam bidang anastesi, keluhan mual dan muntah pasca bedah sekarang ini sudah sangat berkurang bahkan jarang ditemukan, kecuali peristaltik usus kurang baik (paralysis) dan perut menjadi kembung.
                        Ada beberapa hal yang harus diperhatikan :
                   1.  Pemberian cairan per infus biasanya dihentikan setelah penderita flatus
                   2.  Pemberian sedikit minum, diberikan pada 6-10 jam pasca bedah berupa air putih
                   3.  Berikan makanan bubur saring
                   4.  Minum air buah
                   5.  Makan bubur
                   6.  Makanan biasa
                   7.  Setelah bisa minum pada hari pertama, obat-obatan sudah boleh diberikan secara peroral. (Doenges , 1998)
      5.   Nasehat post seksio sesarea (Mochtar, 1998)
                   Setelah dilakukan seksio sesarea ada beberapa nasehat yang harus diberikan kepada ibu. Hal ini dimaksudkan agar untuk mengantisipasi komplikasi dan efek samping dari tindakan seksio sesarea. Adapun nasehat yang harus diberikan yaitu :
             a.    Menganjurkan jangan hamil selama kurang lebih 1 tahun dengan memakai kontrasepsi
             b.   Kehamilan berikutnya hendaknya diawasi dengan antenatal yang baik
             c.    Dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit yang besar
             d.   Apakah persalinan berikutnya harus dengan seksio sesarea tergantung dari indikasi seksio sesarea dan keadaan pada kehamilan berikutnya.



C.  Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
      1.   Pengertian
                   Asuhan keperawatan adalah suatu proses pemecahan masalah yang dinamis dalam usaha memperbaiki atau memelihara pasien sampai ketahap optimum melalui pendekatan yang sistimatis untuk mengenal dan membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan khusus pasien (Nasrul, 1999)
      2.   Proses Keperawatan
                   Proses keperawatan terdiri dari 5 tahap, yaitu :
             1.   Pengkajian
                        Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan  yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data-data tentang pasien agar dapat mengidentifikasi, mengenal masalah, kebutuhan, kesehatan dan keperawatan pasien, baik fisik, mental sosial, dan lingkungan (Effendy, 1999)

             Pengelompokan Data
             Data Subjektif
             *    Adanya keragu-raguan menggendong bayi
             *    Mengungkapkan masalah/kesulitan koping terhadap situasi
             *    Melepaskan nyeri insisi
             *    Nyeri payudara
             *    Tidak dapat tidur
             *    Sakit kepala
             *    Tidak dapat beraktivitas secara mandiri

             Data Objektif
             *    Keragu-raguan berinteraksi dengan bayi
             *    Abdomen kembung
             *    Nyeri tekan payudara
             *    Ekspresi wajah meringis
             *    Tampak meringis
             *    ADL dibantu oleh perawat dan keluarga
Analisa Data
No
Data
Penyebab
Masalah
1
Data Subjektif
-  Adanya keragu-raguan menggendong bayi
-  Mengungkapkan masalah/ kesulitan koping terhadap situasi
Data Objektif
-  Keragu-raguan berinteraksi dengan bayi
-   Perkembangan transisi/peningkatan
-   Krisis situasi
Perubahan ikatan proses keluarga
2
Data Subjektif
-  Melaporkan nyeri insisi
-  Sakit kepala
-  Nyeri payudara
Do
-  Nyeri tekan payudara
-  Ekspresi wajah meringis
-   Trauma pembedahan
-   Efek-efek anastesia
-   Distensi kandung kemih/abdomen
Nyeri
3
Data Subjektif : -
Data Objektif : -
-   Trauma jaringan kulit rusak
-   Penurunan Hb
-   Prosedur invasif
Resiko tinggi terhadap infeksi
4
Data Subjektif
-   Tidak dapat beraktivitas secara mandiri
-   ADL dibantu oleh perawat
-   Proses anastesi
-   Insisi bedah
Intoleransi aktivitas
5
Data Subjektif : -
Data Objektif : -
-   Manipulasi atau trauma sekunder terhadap seksio
Resiko tinggi terhadap perubahan pola eliminasi


             2.   Diagnosa Keperawatan
                        Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasikan dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Nursalam, 2001)
                   Diagnosa keperawatan yang diperoleh berdasarkan teori pada klien dengan post seksio sesarea adalah :
                   a.   Perubahan ikatan proses keluarga berhubungan dengan peningkatan anggota keluarga dan krisis situasi (mis. Intervensi pembedahan)
                   b.  Nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan, efek-efek anastesi, efek-efek hormonal, distensi, kandung kemih/abdomen
                   c.   Resiko tinggi terhadap infeksi perhubungan dengan trauma jaringan
                   d.  Intoleransi aktifitas berhubungan dengan proses anastesi, insisi bedah dan nyeri
                   e.   Resiko tinggi terhadap perubahan pola eliminasi perkemihan atau konstipasi yang berhubungan dengan manipulasi dan atau trauma sekunder terhadap seksio sesarea
             3.   Perencanaan
                        Meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai setelah menentukan  diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi (Nursalam  2001)
                        Langkah-langkah dalam perencanaan keperawatan adalah menetapkan prioritas masalah, merumuskan tujuan keperawatan yang dicapai serta menentukan rencana tindakan keperawatan.


                   1.  Diagnosa Keperawatan
                         a.    Tujuan : kesulitan koping terhadap perubahan situasi tidak terjadi
                         b.   Kriteria hasil : menggendong bayi, bila kondisi ibu dan neonatus memungkinkan, mendemonstrasikan prilaku kedekatan dan ikatan yang tepat mulai secara aktif mengikuti tugas perawatan bayi baru lahir dengan tepat
                         c.    Intervensi
                               1.   Observasi dan catat interaksi keluarga dan bayi
                                      Rasional 
                                      Kontak mata dengan mata, penggunaan posisi wajah, berbicara pada suara  nada tinggi, dan menggendong bayi dengan dekat dihubungkan dengan kedekatan pada budaya Amerika. Pada kontak pertama dengan bayi, ibu menunjukkan pola progresif dari prilaku dengan cara menggunakan ujung jari, pada awalnya untuk menggali ekstremitas bayi dan berlanjut pada penggunaan telapak tangan sebelum mendekap bayi dengan seluruh tangan dan lengan.
                               2    Diskusikan kebutuhan kemajuan dan sifat interaksi yang lazim dari ikatan
                                      Rasional
                                      Membantu klien/pasangan memahami makna dan pentingnya proses dan memberikan bahwa perbedaan diperkirakan
                               3    Perhatikan pengungkapan perilaku yang menunjukkan kekecewaan atau kurang minat/ kedekatan
                                      Rasional
                                      Kedatangan anggota keluarga baru, bahkan bila diinginkan dan diantisipasi, menciptakan periode sementara dari disekuilibrium, memerlukan penyatuan anak baru ke dalam keluarga yang ada.
                               4    Perhatikan lingkungan sekitar kelahiran sesarea, kebanggaan diri orang tua dan persepsi tentang pengalaman kelahiran, reaksi awal mereka terhadap bayi, dan partisipasi mereka terhadap pengalaman kelahiran.
                                      Rasional
                                      Orang tua perlu bekerja melalui hal-hal bermakan pada kejadian penuh stress seputar kelahiran anak dan orientasikan mereka sendiri terhadap realita sebelum mereka dapat memfokuskan pada bayi. Efek-efek anastesi, ansietas, dan nyeri dapat mengubah kemampuan persepsi klien selama dan setelah operasi.
                               5    Anjurkan dan bantu dalam menyusui
                                      Rasional
                                      Kontak awal mempunyai efek positif pada durasi menyusui ; kontak kulit dengan kulit dan mulainya tugas-tugas ibu meningkatkan ikatan. Beberapa budaya (misalnya, Hispanik, Navajo, Filipino, Vietnam) menolak menyusui sampai aliran susu terjadi.
                               6    Berikan informasi sesuai kebutuhan
                                      Rasional
                                      Membantu pasangan untuk memproses dan mengevaluasi informasi yang diperlukan khususnya bila periode pengenalan awal telah lambat.

                   2.   Diagnosa II
                         a.    Tujuan  :   Nyeri berkurang atau hilang
                         b.   Kriteria hasil : Mengidentifikasikan dan menggunakan intervensi untuk mengatasi nyeri mengungkapkan berkurangnya nyeri, tampak rileks, mampu tidur/istirahat dengan tepat


                         c.    Intervensi :
                               1   Temukan karakteristik dan lokasi ketidaknyamanan
                                    Rasional
                                    Klien mungkin tidak secara verbal melaporkan nyeri dan ketidaknyamanan secara langsung. Membedakan karakteristik khusus dari nyeri membantu membedakan nyeri pasca operasi dari terjadinya komplikasi (misalnya retensi kandung kemih atau infeksi).
                               2   Berikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai ketidaknyamanan dan intervensi yang tepat
                                    Rasional
                                    Meningkatkan pemecahan masalah, membantu mengurangi nyeri berkenaan dengan ansietas dan ketakutan karena ketidaktahuan dan memberikan rasa kontrol.
                               3   Evaluasi tekanan darah dan nadi, perhatikan perubahan
                                    Rasional
                                    Pada banyak klien, nyeri dapat menyebabkan gelisah serta tekanan darah dan nadi meningkat.
                               4   Perhatikan nyeri tekan, uterus dan adanya karakteristik nyeri penyerta
                                    Rasional
                                    Selama 12 jam pertam pasca partum, kontraksi uterus kuat dan teratur, dan ini berlanjut selama 2-3 hari berikutnya, meskipun frekuensi dan intensitasnya dikurangi. Faktor-faktor yang memperberat nyeri penyerta meliputi multipara, overdistensi uterus, menyusui dan pemberian preparat ergot dan oksitosin.
                               5   Ubah posisi klien
                                    Rasional
                                    Merilekskan otot, dan mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri. Meningkatkan kenyamanan, dan menurunkan distraksi, tidak menyenangkan, meningkatkan rasa sejahtera.
                               6   Lakukan latihan napas dalam 
                                    Rasional
                                    Nafas dalam meningkatkan upaya pernapasan. Perbebatan menurunkan regangan dan ketegangan area insisi dan mengurangi nyeri and ketidaknyamanan berkenaan dengan gerakan otot abdomen. Batuk diindikasikan bila sekresi atau Ronchi terdengar.
                               7   Anjurkan penggunaan posisi rekumber
                                    Rasional
                                    Memungkinkan gas meningkat dari kolon desenden kesigmoid memudahkan pengeluaran
                               8   Palpasi kandung kemih, perhatikan adanya rasa penuh
                                    Rasional
                                    Kembalinya fungsi kandung kemih normal memerlukan 4-7 hari, dan overdistensi kandung kemih menciptakan perasaan dorongan dan ketidaknyamanan.
                               9   Evaluasi terhadap sakit kepala, khususnya setelah anastesi subaraknoid
                                    Rasional
                                    Kebocoran cairan serebrospinal (CSS) melalui duramater ke dalam ruang ekstradural menurunkan volume yang diperlukan untuk menyokong volume yang diperlukan jaringan otot, menyebabkan batang otak turun ke dasar tengkorak bila klien pada posisi tegak. HKK dapat mengakibatkan edema serebral.
                   3.   Diagnosa III
                         a.    Tujuan : Luka tidak terjadi infeksi
                         b.   Kriteria hasil : Mendemonstrasikan teknik-teknik untuk menurunkan resiko dan meningkatkan penyembuhan.

                         c.    Intervensi
                               1   Anjurkan dan gunakan teknik mencuci tangan dengan cermat dan pembuangan pengalas kotoran, pembalut, dan linen terkontaminasi dengan tepat
                                    Rasional
                                    Membantu mencegah atau membatasi penyebaran infeksi
                               2   Tinjauan ulang Hb/Ht prenatal : perhatikan adanya kondisi yang mempredisposisikan klien pada infeksi pasca operasi
                                    Rasional
                                    Anemia, diabetes dan persalinan yang lama (khususnya pada pecahnya ketuban) sebelum kelahiran sesarea meningkatkan resiko infeksi perlambatan penyembuhan
                               3   Kaji status nutrien pasien
                                    Rasional
                                                Klien yang berat badannya 20 % dibawah berat normal, atau yang anemia atau malnutrisi, lebih rentan terhadap infeksi pasca partum dan dapat memerlukan diet khusus
                               4   Dorong, masukkan cairan oral
                                    Rasional
                                    Mencegah dehidrasi, memaksimalkan volume sirkulasi dan aliran urine. Protein dan vitamin C diperlukan untuk pembentukan kolagen ; bersih diperlukan untuk sintesis Hb
                               5   Perhatikan jumlah dan bau rabas lokhia atau perubahan pada kemajuan normal dari rubra menjadi serosa.
                                    Rasional
                                    Tanda-tanda ini menandakan infeksi luka, biasanya disebabkan oleh streptococcus,  stapilococcus atau species pseudomonas
                               6   Infeksi sekitar infus IV, terhadap tanda eritema atau nyeri tekan

                   4.   Diagnosa IV
                         a.    Tujuan : Kebutuhan aktivitas terpenuhi
                              b.   Kriteria hasil : Mengungkapkan kemampuan beraktivitas secara mandiri
                              c.    Intervensi
                               1   Perhatikan jenis anastesi yang diberikan dan waktu pemulihan
                                    Rasional
                                    Waktu pemulihan anastesi umum berbeda. Perubahan posisi dan perputaran biasa diindikasikan setiap 2 jam selama 24 jam pertama dari istirahat tempat tidur yang dianjurkan. Pemulihan anastesi spinal mengharuskan klien untuk berbaring datar ditempat tidur dalam posisi terlentang atau miring selama 8 jam hingga 12 jam.
                               2   Atur tempat tidur dalam posisi semi fowler
                                    Rasional
                                    Pemberian bantuan selama pengobatan dengan mengurangi rasa sakit dan kekuatiran
                               3   Anjurkan untuk melakukan gerakan kaki pada saat tidur
                                    Rasional
                                    Statis darah dalam pembuluh peripheral memungkinkan klien untuk tromboplebitis.
                               4   Bantu klien dengan ambulasi progresif
                                    Rasional
                                    Hipotensi dan vertigo yang terjadi umumnya muncul pada awal ambulasi. Rasa nyeri intervensi aktual atau yang diantisipasi dari jalur intravena (IV) dan kateter urinary dapat mengejutkan atau membingungkan klien sehingga mengakibatkan keenganan untuk bergerak.
                   5.   Diagnosa V
                         a.    Tujuan : Perubahan pola eliminasi tidak terjadi (normal)
                         b.   Kriteria hasil : mengungkapkan frekuensi BAB dan BAK normal, bau dan warna normal, tidak ada kelainan setelah pengangkatan kateter
                         c.    Intervensi :
                               1   Anjurkan berkemih setiap 4-6 jam bila mungkin
                                    Rasional
                                    Oliguri (haluaran kurang dari 30 ml/jam) mungkin disebabkan oleh kelebihan kehilangan cairan, ketidakadekuatan penggantian cairan, atau efek-efek antidiuretik dari infus oksitosin.
      `                        2   Berikan teknik untuk mendorong berkemih sesuai kebutuhan
                                    Rasional
                                    Klien harus berkemih dalam 6-8 jam setelah pengangkatan kateter. Masih mungkin mengalami kesulitan pengosongan kandung kemih secara lengkap.
                               3   Jelaskan prosedur perawatan perineal
                                    Rasional
                                    Membantu klien untuk mandiri dalam merawat diri
                               4   Palpasi abdomen bawah
                                    Rasional
                                    Aliran plasma ginjal tetap tinggi pada peningkatan pengisian kandung kemih. Distensi kandung kemih dapat dikaji dengan derajat perubahan posisi uterus ; menyebabkan peningkatan relaksasi uterus dan aliran lochia
                               5   Anjurkan ibu untuk ambulasi sesuai toleransi
                                    Rasional
                                    Dengan ambulasi dapat membantu kontraksi usus dengan baik yang mempengaruhi pola eliminasi.
                               6   Pantau masukan dan haluaran sampai mengeluarkan secara adekuat

             4.   Pelaksanaan
                        Pada tahap ini dilakukan pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang telah ditentukan, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan klien secara optimal. Pelaksanaan adalah pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. (Effendy 1995)

             5.   Evaluasi
                        Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematik dan terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya
                        Penilaian dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam melaksanakan rencana kegiatan klien secara optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan
                        Penilaian keperawatan adalah mengukur keberhasilan dari rencana dan pelaksanaan tindakan perawatan yang dilakukan dalam memenuhi kebutuhan klien (Effendy 1995)
                        Evaluasi dapat berupa : masalah teratasi dan masalah teratasi sebagian.

 D


DAFTAR PUSTAKA


Bobak M.I dkk 2004 Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Jakarta PT Buku Kedokteran EGC

Doenges M, Dkk, 1999 Rencana Asuhan Keperawatan; Edisi Ke Tiga, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta,

Farer H, 2001 Perawatan Maternitas Edisi 2. Jakarta PT Buku Kedokteran
Mansjoer Dkk, 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Edisi Ketiga Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI Jakarta

Manuaba Gde Ida Bagus 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta PT Buku Kedokteran EGC

Mochtar R.1998 Sinopsis Obsteri Jilid 2 Edisi II Jakarta PT Buku Kedokteran EGC
Nursalam, 2001. Proses Dan Dokumentasi Keperawatan Konsep Dan Praktik, Salemba Medika, Jakarta

Verralls,Sylvia 1997 Anatomi Dan Fisiologi Terapan Dalam Kebidanan     Edisi 3. Jakarta EGC
Tucker. Standar Perawatan Klien Proses Keperawatan Diagnosa Evaluasi







Post a Comment