METODE PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN


Secara umum mutu pelayanan kesehatan di Indonesia masih relative belum professional. Hal ini bisa di lihat dengan adanya kemampuan professional terbatas, pengaturan tugas yang kurang efektif, dan fasilitas maupun alat. Yang kurang memadai. Kondisi seperti ini akibat relatife masih kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan maupun adanya krisis moral para pelaku pelayan kesehatan akibat krisis di berbagai bidang yang berkepanjangan (suara merdeka 14 november 2002). Di sisi lain, era globalisasi dengan berbagai konsekuensinya seperti tuntutan pelayan rumah sakit yang semakin kompetitif menuntut petugas kesehatan untuk bertindak professional. Situasi ini menuntut para pembaharu di bidang keperawatan untuk mengembangkan suatu metode pemberian asuhan keperawatan untuk dapat diimplementasikan dalam pengorganisasian ruang keperawatan sehingga dapat menjamin dan meningkatkan mutu pelayanan melalui pemberian asuhan keperawatan.
                Dalam rangka mendayagunakan tenaga keperawatan yang tersedia di rumah sakit, ada beberapa metode yang dapat di implementasikan dengan metode penugasan dalam bentuk metode pemberian asuhan keperawatan. Ada lima metode pemberian asuhan keperawatan yang dikenal, antara lain metode fungsional, tim, keperawatan primer, modular, dan menejemen kasus keperawatan.
A. METODE FUNGSIONAL
Metode ini diterapkan dalam penguasaan pekerja didunia industri ketika setiap pekerja dipusatkan pada saatu tugas atau aktifitas. Dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien dengan menggunakan metode fungsional, setiap perawat mempperoleh suatu tugas (kemungkinan bisa lebih) untuk semua pasien diunit/ruang tempat perawat tersebut bekerja. Disatu unit/ruangan, seorang perawat diberikan tugas mennyuntik maka perawat tersebut bertanggung jawab untuk memberikan program pengobatan melalui suntikan kepada semua pasien di unit/ruangan tersebut. Contoh penugasan yang lain adalah membagi obat per oral, mengganti balut, pendidikan kesehatan pada pasien yang akan pulang, dan sebagainya.                                              
                Metode fungsional ini efisien, akan tetapi penugasan seperti ini tidak dapat memberikan kepuasan kepada pasien maupun perawat. Keberhasilan asuhan keperawatan secara menyeluruh tidak bias dicapai dengan metode ini karena asuhan keperawatan yang dibeikan kepada pasien terpisah-pisah sesuai tugas yang dibebankan kepada perawat. Disamping itu asuhan keperawatan yang diberikan tidak professional yang berdasarkan pada masalah pasien. Perawat senior cenderung akan sibuk dengan tugas-tugas administrasi dan manajerial. Sementara asuhan keperawatan kepada pasien dipercayakan kepada perawat junior.
                Sekalipun metode fungsional dalam pemberian asuhan keperawatan ini membosankan perawat karena hanya berorientasi pada tugas, tetapi metode ini baik dan berguna untuk situasi di rumah sakit dengan ketenagaan perawat yang kurang. Metode ini juga dapat memberikan kepuasan kepada pasien yang membutuhkan pelayanan secara rutin.
1.       Keuntungan dan Kerugian metode fungsional
Penerapan metode fungsional dalam pemberiaan asuhan keperawatan kepada pasien memiliki beberapa keuntungan. Keuntungan dan metode fungsional yaitu:
a.       Perawat menjadi lebih terampil dalam melakukan satu tugas yang biasa menjadi tanggung jawabnya.
b.      Pekerjaan menjadi lebih efisien
c.       Relative sedikit dibutuhkan tenaga perawat
d.      Mudah dalam mengoordinasi pekerjaan
e.      Terjadi proses distribusi dan pemantauan tugas atau pekerjaan
f.        Perawat lebih mudah menyesuaikan dengan tugas yang menjadi tanggung jawabnya sehingga menjadi lebih cepat seleai.
Selain itu, perawat dalam membeikan asuhan keperawatan tidak melihat pasien secara holistic dan tidak berfokus pada masalah pasien sehingga tidak professional, tidak membeikan kepuasaan baik pada pasien maupun pada perawat, dan kadang bisa terjadi saling melempar tanggung jawab bila terjadi kesalahan.
2.       Peran Perawat Kepala Ruang
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut maka peran perawat kepala ruangan (ners unit manager) harus lebih peka terhadap anggaran rumah sakit dan kualitas pelayanaan keperawatan, bertanggung jawab terhadap hasil dan pelayanan keperawatan yang berkualitas, dan menghindari terjadinya kebosanan perawat serta menghindari semua kemungkinan terjadinya saling melmpar kesalahan. Sekalipun di akui metode fungsional ini cocok untuk jangka waktu pendek dalam kondisi gawat atau terjadi suatu bencana, tetapi metode ini kurang di sukai untuk pelayanan biasa dan jangka panjang karena asuhan keperawatan yang diberikan tidak komperehensif dan melakuan pasien kurang manusiawi (Gillies, 1994)

B. METODE TIM
Pengembangan metode tim ini didasarkan pada falsafah mengupayakan tujuan dengan menggunakan kecakapan dan kemampuan anggota kelompok. Metode ini juga didasari atas keyakinan bahwa setiap pasen berhak memperoleh peleyanan terbaik. Dalam keperawatan, metode tim diterapkan dengan menggunakan sama tim perawat yang heterogen, terdiri dari perawat professional, nonprofessional, dan pembantu perawat untuk memberikan asuhan keperawatan kepada pembantu pasien.
Tujuan pemberian metode tim dalam asuhan keperawatan adalah untuk memberikan asuahan keperawatan sesuai dengan kebutuhan objektif pasien sehingga pasien merasa puas. Selain itu, tugas, memungkinkan adanya transfer  of knowledge dan transfer of experiences di antara perawat dalam memberikan asuhan keperawatan dan meninggkatkan pengetahuan serta
memberikan keterampilan dan motivasi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.
Dalam asuhan keperawatan dengan metode ini, ketua tim harus memiliki kemampuan untuk mengikutsertakan anggota tim dalam memecahkan massalah. Ketua tim juga harus dapat menerapkan pola asuhan keperawatan yang di anggap sesuai dengan kondisi pasien dan minat pemberi asuhan. Oleh jarena itu, pembuatan keputusan, otoritas, dan tanggung jawab adapada tinggkat pelaksana. Hal ini akan mendukung pencapaan pengetahuan dan keterampilan professional.
Berdasarkan hal-hal tersebut maka ketua tim harus memiliki kemampuan sebagaiberikut :
1.       Mengomunikasikan dan mengoordinasikan semua kegiatan tim
2.       Menjadi konsultan dalam asuhan keperawatan
3.       Melakukan peran sebagai model peran
4.       Melakukan pengkajian dan menentukan kebutuhan pasien
5.       Menyusun rencana keperawatan untuk semua pasien
6.       Merefisi dan menyesuaikan rencana keperawatan sesuai kebutuhan pasien
7.       Melaksanakan observasi baik erhadap perkembangan pasien maupun kerja dari  anggota tim
8.       Menjadi guru pengajar
9.       Melaksanakan evaluasi secara baik da objektif
Bila kemampuan tersebut dapat di miliki oleh ketu tim, akan berdampak secara positif dalam pemberian asuhan keperawatan.
Dibandingkan dalam metode fungsional, metode tim lebih banyak memberikan tanggung jawab,otoritas,dan tanggung gugat kepada anggota tim.

1.       Keuntungan dan Kerugian Metode Tim
Beberapa keuntungan dari metode tim dalam pemberian asuhan keperawatan adalah :
a.       Dapat member kepuasan kepada pasien dan perawat. Pasien merasa di perlakukan lebih manusiawi karna pasien memiliki sekelompok perawat yang lebih mengenal dan memahami kebutuhannya.
b.      Perawat dapat mengenali pasien secara individual karena perawatannya menangani pasien dalam jumlah yang sedikit. Hal ini, sangat memungkinkan merawat pasien secara konfrehensif dan melihat pasien secara holistic.
c.       Perawat akan memperlihatkan kerja lebih produktif melalui kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi dengan klien. Hal ini akan mempermudah dalam mengenali kemampuan ak-nggota tim yang dapat di manfaatkan secara optimal.

2.       Peran Perawat Kepala Ruang
Peran perawat kepala ruang dalam aplikasi metode tim diarahkan pada keterampilan dan minat yang dimilikinya. Disamping itu perawat kepala ruangan harus mampu mengoptimalkan fungsi tim melalui orientasi anggota tim dan pendidikan berkelanjutan, mengkaji kemampuan anggota tim dan membagi tugas sesuai denan keterampilan anggotanya. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah perawat kepala ruangan harus mampu sebagai model peran.
Metode tim dalam pemberian asuhan keperawatan dapat diterapkan bila ada tenaga profesional yang mampu dan mau memimpin kelompok kecil, dapat bekerja sama dan memimbing tenaga keperawatan yang lebih rendah. Disamping itu perawat kepala ruang harus membagi tanggung jawab dan tugasnya kepada orang lain. Satu tim keperawatan dapat terdiri tiga sampi lima perawat untuk bertanggung jawab memberikan asuhan keperawatan kepada 10 sampai 15 pasien.

C.      METODE KEPERAWATAN PRIMER
Metode inidi kembangkan pada falsafah yang beriorentasi pada pasien bukan pada tugas. Disini terjadi suatu desentralisasi dalam pengambilan keputuan antara perawat primer dan pasien. Menurut Hegyvary (1982), pemberian asuhan keperawatan dengan metode keperawatan primer memberikan setiap perawat primer tanggung jawab menyeluruh (total care) dalam 24 jam/hari secara terus menurus untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pada sekelompok kecil pasien (4-6 pasien). Hal ini di mulai sejak pasien masuk hingga pulanh/keluar (Gullies, 1994). Pada saat perawat primer tidak masuk, tindakan perawatan dapat dilakukan olrh perawat penggantinya (perawat asisten).
Dalam aplikasi metode keperawatan primer, perawat primer bertanggung jawab kepada setiap pasen untuk mengkaji kondisi kesehatan, keadaan kehidupannya, dan kebutuhan keperawatan. Selain itu, perawat primer memberikan perawatan sesuai rencana yang dibuatdan mengoordinasi prawatan yang diberikan oleh anggaota tim kesehatan lainya, misalnya memberikan rujukan atau konsultasi dengan dokter atau lainnya untuk memberikan asuhan keperawatan individual, mengevaluasi keberhasilan asuhan keperawatan yang dicapai, serta menyiapkan pasien pulang (discharge planning).
1.       Keuntungan dan Kerugian Metode Keperawatan Primer
Metode keperawatan primer dalam pemberian asuhan keperawatan, memiliki beberapa keuntungan yang dapat diidentifikasi, antara lain :
a.       Asuhan keperawatan lebih konprehensif dengan memperlakukan pasien secara holistic
b.      Pasien akan merasa lebih puas karena terjadi kesinambungan perawatan
c.       Perawat lebih puas karena disampig memiliki otoritas, perawat juga memiliki tanggung gugat didalam memberikan asuhan, hubungan terus menerus antara perawat dan pasien akan memudahkan pasien menyampaikan permasalahan serta dapat memperpendek lama hari perawatan bagi pasien.
Asuhan keperawatan dengan menggunakan metode keperawatan primer diberikan oleh seorang perawat professional untuk sekelompok kecil pasien.
2.       Peran Perawat Kepala Ruangan
Peran perawat menjadi sangat penting untuk mengantisipasi kerugian yang dapat muncul dalam implementasi metode keperawatan tim. Peran perawat kepala ruang tersebut dapat dilakukan, seperti meakukan identifikasi perawat di ruangan/unit yang memiliki minat mrnjadi perawat primer dan memfasilitasi untuk pendidikan, menjabarkan tugas-tugas dan perawat primer dan perawat asisten/anggota. Selain itu, perawat berperan sebagai model dan konsultan, mengembangkan penelitian, melakukan analisis kebutuhan tenaga (perawat) yang mungkin sebagai bahan pertimbangan dalam recruitment tenaga baru, menyusun jadwal dinas,membuat perencanaan pengembangan staf, dan melakukan kegiatan evaluasi.
D.      METODE MEDULAR
Metode ini adalah suatu variasi dan metode keperawatan primer. Metode keperawatan modular memiliki kesamaan baik dengan metode keperawatan ti maupunmetode keperawatan primer (Gillies, 1994). Metode ini sama dengan metode keperawatan tim karena baik perawat professional maupun non professional bekerja sama dalam memberikan asuhan keperawatan dibawah kepemimpinan seorang perawat professional. Disamping ini, dikatakan memiliki kesamaan dengan metode keperawatan primer karena dua atau tiga orang perawat bertanggung jawab atas sekelompok kecil pasien sejak masuk dalam perawatan hingga pulang, bahkan sampai dengan waktu follow up care.
Dalam memberikan asuhan keperawatan dengan menggunakan metode keperawatan modular, satu tim yang terdiri dari dua hingga tiga perawat memiliki tanggung jawab penuh pada sekelompok pasien berkisar  8 sampai 12 orang (Magargal, 1987). Hal ini tentu saja dengan suatu persyaratan peralatan yang di butuhkan dalam perawatan cukup memadai.
Sekalipun dalam memberikan asuhan keperawatan dengan menggunakan metode ini dilakukan oleh dua hingga tiga perawat, tanggung jawab paling besar tetap ada pada perawat professional. Perawat professional memiliki kewajiban untuk memimbing dan melatih non professional. Apabila perawat professional sebagai ketua tim dalam keperawatan modular ini tidak masuk, tugas dan tanggung jawab dapat digantikan oleh perawat professional lainnya yang berperan sebagai ketua tim.
Peran perawat kepala ruangan (nurse unit manager) diarahkan dalam hal membuat jadwal dinas dengan mempertimbangkan kecocokan anggota dalam bekerja sama, dan berperan sebagai fasilitator, pembimbing secara motivator.
E.       MANAJEMEN KASUS KEPERAWATAN
Metode ini merupakan generasi kedua dan metode keperawatan primer (Zander, 1988). Pengembangan metode ini didasarkan pada bukti-bukti bahwa manajemen kasus dapat mengurangi pelayanan yang terpisah-pisahdan duplikasi. Rogers (1991) menyoroti bahwa dengan pengaplikasian metode manajemen kasus akan berdampak positif yaitu lama perawatan pasien menjadi lebih pendek.
Metode manajemen kasus keperawatan adalah bentuk pemberian asuhan keperawatan dan manajemen sumber-sumber terkait yang memungkinkan adanya manajemen yang straegis dari cozt dan quality oleh seorang perawat untuk suatu episode penyakit hingga perawatan lanjut. Menurut American Nurses Asociation (1988), manajemen kasus (case managemen) adalah suatu system pemberian pelayanan kesehatan yang didesain untuk memfasilitasi pencapaian tujuan pasien yang di harapkan dalam kurun waktu perawatan di rumah sakit.
Tujuan dari metode manajemen kasus keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien adalah untukmermuskan dan mencapai hasil yang standar dalam perawatan untuk setiap pasien, memfasilitasi pasien yang akan pulang baik lebih awal dan masa perawatan yang ditentukan maupun pada waktu yang direncanakan, menggunakan sedikit mungkin sumber pelayanan kesehatan untuk mencapai hasil yang di harapkan, meningkatkan profesionalisasi perawat dan kepuasan kerja.
Dalam manajemen kasus keperawatan, seorang perawat akan bertugas sebagai case manager untuk seorang (mungkin lebih) pasien, sejak masukrumah sakit hingga pasien tersebut selesai dari masa perawatan dan pengobatan. Sebagai case manager, perawat memiliki tanggung jawab dan kebebasan untuk perencanaan, pelaksanaan, koordinasi, dan evaluasi.
Post a Comment