Askep Bayi Asfiksia Berat


LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERWATAN BAYI DENGAN ASFIKSIA BERAT

A.  KONSEP DASAR NEONATUS
      1)   Definisi
             Neonatus berasal dari kota Neo (Yunani): Awalan yang menunjukkan baru atau asing; Natal: Lahir (Kumala,1998).

             Bayi (anak,jabang,orok)adalah anak kecil yang belum lama lahir (Kamisa, 1992).

             Neonatus, Jabang bayi adalah bayi baru lahir hingga berumur 4 minggu.
             Neonatus  adalah  organisme pada periode adaptasi kehidupan intrauterine          
             ke ekstrauterin (YU & Monintja,1987).

             Neonatologi adalah suatu cabang Ilmu Pediatrik utama. Neonatologi  berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas utama, penyakit organik berat, fisiologi dan fatofisiologi khusus dan tehnologi intensif.
             Masa Neonatus secara formal didefinisikan sebagai kehidupan 30 hari pertama (Palupi,2004).

             Menurut Yu & Monintja (1987) Neonatus dapat diklasifikasikan berda- sarkan :
             1.   Berat badan lahir
                   a.    Bayi Berat Lahir Rendah , bila berat lahir kurang dari 2500 gram.
                   b.   Berat Lahir Cukup, bila berat lahir 2500 sampai 4000 gram.
                   c.    Berat Lahir Lebih, bila berat lahir 4000 gram atau lebih
             2.   Masa gestasi
                   Klasifikasi ini menunjukkan maturitas Neonatus pada saat dilahirkan. Menurut persetujuan yang ditetapkan pada SECOND EUROPEAN CONGRESS OF PERINATAL MEDICINE di London tahun 1970 maka Neonatus menurut masa gestasinya dibagi dalam :
a.       Bayi kurang bulan (preterm infant), masa gestasinya kurang dari 259 hari atau kurang dari 37 minggu lengkap.
b.      Bayi cukup bulan (term infant), masa gestasinya 259 sampai 293 hari (37 minggu sampai 42 minggu lengkap).
c.       Bayi lebih bulan (post term infant), masa gestasinya 294 hari (42 minggu) atau lebih .
3.       Berat badan lahir dan masa gestasi.
a.    Neonatus cukup bulan yang :
      -     Kecil untuk Masa Kehamilan (KMK).
      -     Sesuai untuk Masa Kehamilan (SMK).
                         -     Besar untuk Masa Kehamilan (BMK).
                   b.   Neonatus kurang bulan yang :
                         -     Kecil untuk Masa Kehamilan (KMK).
      -     Sesuai untuk Masa Kehamilan (SMK).
                         -     Besar untuk Masa Kehamilan (BMK).
                   c.    Neonatus lebih bulan yang :
                         -     Kecil untuk Masa Kehamilan (KMK).
      -     Sesuai untuk Masa Kehamilan (SMK).
                         -     Besar untuk Masa Kehamilan (BMK).

      2)   Anatomi & Fisiologi Neonatus.
             A.  Sistem Pernafasan.
                   *    Perkembangan paru
                         Paru berasal dari benih yang tumbuh dari rahim, yang bercabang -  cabang dan beranting menjadi struktur pohon bronchus. Proses ini terus berlanjut setelah kelahiran hingga sekitar 8 tahun ketika jumlah bronkhiol dan alveoli akan sepenuhnya berkembang. Ketidakmatangan paru terutama akan mengurangi peluang kelang- sungan hidup BBL karena keterbatasan permukaan alveoli, keti- dak matangan sistem kapiler paru dan tidak mencukupi jumlah survaktan.
                   *    Awal timbulnya pernafasan
                         Ada 2 faktor yang berperan pada rangsangan pertama pernafasan :
                         -     Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik ling- kungan luar rahim yang merangsang pusat pernafasan di otak.
                         -     Tekanan dalam dada, yang terjadi melalui pengempisan paru selama persalinan, merangsang masuknya udara kedalam paru secara mekanik.
                         Selain itu, kemoreseptor di aorta menginisiatifkan refleks neu- rologik ketika tekanan oksigen arteri menurun dari 80 menjadi 15 mmHg, tekanan karbondioksida meningkat dan 40 menjadi 70 mmHg, dan PH arteri menurun sampai di bawah 7,35. bayi baru lahir biasanya bernafas melalui hidung, respon bayi terhadap obs -truksi dihidung ialah membuka mulut mulut untuk memper- tahankan jalan nafas.
*    Surfaktan dan efek respirasi
      Untuk mendapatkan fungsi alveoli, harus terdapat surfaktan yang cukup dan aliran darah yang cukup melalui paru. Alveoli  paru  janin dilapisi surfaktan. Ekspansi paru mempercepat  sekresi  surfaktan. Fungsi surfaktan ialah 1) menurunkan tegangan permukaan  oleh  karena  itu dibutuhkan tekanan yang lebih kecil untuk  mempertahankan alveolus tetap terbuka dan 2) mempertahankan   stabilitas alveolus dengan mengganti tegangan dengan permukaan  dengan perubahan bentuk alveolus. Sistim surfaktan berkembang  sewaktu janin berkembang di dalam rahim maturitas paru janin dapat  ditentukan  dengan  pemeriksaan  rasio lesitin/ sfingomielin ( L/S ) dan kadar fofotidilgliserol dalam cairan amoniatik.Fosfotidil gliserol muncul pada minggu ke 35 dan minggu ke 36 yang merupakaindikator maturitas  paru. Konsentrasi lesitin dan sfingomielin matur adalah   2 : 1.
                   *    Dari cairan menuju udara
                         Pada waktu cukup bulan, terdapat cairan di dalam paru bayi. Pada saat bayi melalui jalan lahir selama persalinan, sekitar 1/3 cairan ini diperas keluar dari paru (seorang bayi lahir sesarea kehilangan manfaat perasan thorax ini dan dapat menderita paru-paru basa dalam jangka waktu yang lebih lama). Pada beberapa kali tarikan nafas pertama, udara ruangan memenuhi trakea dan broncus bayi baru lahir. Sisa cairan di dalam paru di keluarkan dan diserap oleh pembuluh limfe dan darah. Semua alveolar paru akan berkembang terisi udara sesuai dengan perjalanan waktu.

             B.   Sistim Sirkulasi
                   Setelah lahir, dada bayi baru lahir harus melewati paru untuk meng- ambil O2 dan mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mendukung ke hidupan luar rahim, harus terjadi 2 perubahan besar, yaitu :
                   -    Penutupan foramen ovale atrium jantung
                   -    Penutupan duktus arteriosus antara arteri paru dan aorta.
                   Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh sistem pembuluh darah.Darah akan mengalir pada daerah yang mem- punyai resistensi terkecil.Perubahan tekanan langsung berpengaruh pada aliran darah.O2 menyebabkan sistem pembuluh mengubah teka- nan dengan mengurangi resistensinya atau dengan meningkatkan re- sistensinya, jadi mengubah aliran darah ada dua peristiwa yang me- ngubah tekanan dalam sistem pembuluh :
                   -    Pada saat tali pusat dipotong, resistensi pembuluh sistemik mening kat dan tekanan atrium kanan menurun (karena berkurangnya ali- ran darah yang mengurangi volume dan selanjutnya tekanannya. Kedua kejadian ini membantu darah dan kandungan oksigen me- ngalir ke paru-paru untuk menjadi proses oksigenasi ulang.
                   -    Pernafasan pertama menurunkan resistensi pembuluh paru dan me- ningkatkan tekanan atrium kanan. O2 pada pernafasan pertama ini menimbulkan relaksasi dan terbukanya sistem pembuluh paru (me- nurunkan resistensi pembuluh paru). Ini akan meningkatkan sirku- lasi ke paru sehingga terjadi peningkatan volume darah dan teka- nan pada atrium kanan. Dengan peningkatan tekanan atrium kanan ini dan penurunan tekanan atrium kiri, foramen ovale secara fisio- logis akan menutup.
                        Dengan pernafasan, kadar O2 darah akan meningkat. Ini mengaki- batkan duktus arteriosus mengalami konstriksi dan menutup.
                        Vena umbilicus, duktus arteriosus dan arteri hipogastrika tali pusat menutup secara fisiologis dalam beberapa menit setelah diklem. Penutup anatomi jaringan fibrosa berlangsung dalam 2-3 hari.
             C.   Sistem pengaturan suhu tubuh
                   Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuh. Segera setelah bayi lahir, bayi akan berada ditempat yang suhu lingkungannya lebih ren- dah dari lingkungan dalam rahim. Suhu tubuh yang normal neonatus yaitu sekitar 36,50-370 C,bila bayi dibiarkan dalam suhu kamar (250C) maka bayi akan kehilangan panas melalui Evaporasi (penguapan), Konveksi dan Radiasi sebanyak 200 kalori/kg BB/menit (sebesar 100 %). Tubuh bayi akan beradaptasi dengan pembentukan suhu tanpa menggigil dengan menggunakan timbunan lemak coklat yang terlekat diseluruh tubuh dan meningkatkan panas sebesar 100%. Untuk mem- bakar lemak coklat seorang bayi harus menggunakan glukosa untuk mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas, dan akan segera habis dalam waktu beberapa menit oleh stres dingin. Lemak coklat tidak dapat diproduksi ulang. Hal ini akan menyebabkan penurunan suhu tubuh sebanyak 20C dalam 15 menit, keadaan ini sa- ngat berbahaya bagi neonatus terlebih bagi bayi BBLR, bayi dapat mengalami Asfiksia karena tidak sanggup mengimbangi penurunan   suhu tubuh dengan habisnya cadangan lemak coklat.
             D.  Metabolisme glukosa
                   Fungsi otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Saat tindakan penjepitan tali pusat dengan klien pada saat bayi lahir, bayi mulai mempertahankan kadar glukosa, karena energi tambahan diperlukan pada jam pertama kelahiran yang diambil dari hasil metabolisme sehingga kadar gula darah dapat mencapai 120 mg.100ml. Pada setiap bayi baru lahir glukosa akan menurun 1-2 jam. Karena hipoglikemia antara lain melalui cadangan glikogen (glikogenolisis),pembuatan glu-  kosa dari lemak (glukoneogenesis), dan pemberian ASI segera setelah lahir.
             E.   Perubahan-perubahan lainnya
                   1.   Perubahan Sistem Gastro-intestinal
                         Kemampuan Neonatus untuk menelan dan rencana makanan masih terbatas, juga hubungan antara esophagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan gumoh pada neonatus. Kapasitas lambung sendiri sangat terbatas, 30 cc untuk bayi baru lahir. Kapasitas lambung ini akan bertambah secara per -lahan bersamaan dengan pertumbuhan neonatus. Pengaturan ma- kanan harus sesuai.
                         Usus bayi belum matang sehingga tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari zat-zat kolon berbahaya. Pada Neonatus mem-pertahankan air kurang efisien dibanding orang dewasa, sehingga menyebabkan penyakit diare.
                         Saluran pencernaan mengeluarkan tinja pertama kali dalam 24 jam pertama berupa mekoneum (zat yang berwarna hitam kehijauan).
                   2.   Perubahan sistem kekebalan tubuh (Imunologi)
                         Sistem Imunitas Neonatus belum matang sehingga rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Pada Neonatus hanya Immunoglobulin Gamma G, dibentuk dalam bulan kedua kelahiran yang diperoleh dari plasenta. Sistem imunitas akan memberikan kekebalan alamiah dan dapatan. Kekebalan alamiah antara lain :
                         -     Perlindungan oleh kulit membran mukosa.
                         -     Fungsi saring saluran nafas.
                         -     Pembentukan koloni mikroba oleh usus.
                         -     Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung.

                   3.   Fungsi hepar
                         Fungsi hepar pada neonatus masih dalam keadaan imatur, hal ini dibuktikan dengan ketidakseimbangan untuk meniadakan bekas penghancuran darah dari peredaran darah. Enzim hepar belum aktif benar, misalnya enzim UDPG : T (uridin difofat Glukorinide Transferose) dan enzim G6PD (Glukosa 6 Fosfat Dehidrogenase) yang berfungsi dalam sintesis bilirubin, kadang-kadang neonatus memperlihatkan gejala ikterik fisiologik.
                   4.   Keseimbangan air dan fungsi renal
                         Tubulus Neonatus mengandung relative lebih banyak air (75 %) dan kadar natrium relative lebih besar daripada kalium. Pada Neo- natus fungsi ginjal belum sempurna, hal ini karena :
                         a.    Jumlah nefron matur belum sebanyak orang dewasa.
                         b.   Tidak seimbang antara luas permukaan glomerolus dan volu- me tubulus proksimal.
                         c.    Aliran darah ginjal
                   5.   Susunan saraf.
                         Susunan saraf pada triwulan  terakhir menunjukkan hubungan sa- raf dan fungsi otot menjadi lebih sempurna sehingga janin yang dilahirkan diatas 32 minggu dapat hidup diluar kandungan.
                   6.   Kelenjar endokrin.
                         Pada Neonatus kadang-kadang hormon yang didapatkan dari ibu masih berfungsi pengaruhnya dapat dilihat misalnya pembesaran kelenjar air susu pada laki-laki atau perempuan, kadang-kadang ada pengeluaran darah dari vagina pada bayi perempuan.
                   7.   Metabolisme
                        Dibandingkan dengan ukuran tubuhnya, luas permukaan tubuh Neonatus lebih besar daripada orang dewasa, sehingga meta- bolisme per kilogram berat badannya lebih besar.(Berhman,1999)



1.  Pengkajian Keperawatan
     Pengkajian  keperawatan  Bayi F.T terdiri dari  2 bagian  yaitu Pengkajian Kepera- 
     watan awal dan Pengkajian  Keperawatan Lanjutan. Pengkajian Keperawatan awal
     dilakukan sebelum ibu di bawa ke kamar operasi. Data yang diperoleh adalah mela
     lui  wawancara  pada  ibu, observasi,  pemeriksaan  fisik  dan  studi dokumentasi.   
     Berdasarkan  kajian  teori dari Bobak (2004) dijelaskan  bahwa  sangat penting ba-
     gi seorang perawat untuk memperoleh data penunjang dari riwayat obstetri ibu.  
     Data penting dari ibu adalah umur ibu 36 tahun, hamil ke-2, Abortus spontan 1x (2   
     tahun yang lalu)  dalam usia  perkawinan  4 tahun, keluarga sangat  mengharapkan
     kehadiran  anak, atas indikasi  tersebut  ibu  dianjurkan  untuk  melahirkan melalui
     tindakan  Seksio Sesarea. Data  penunjang lainnya  seperti  Denyut  Jantung Janin,
     kondisi  umum ibu  tidak  menujukkan  adanya  kegawatan obstetri. Hari Pertama
     Haid  Terakhir dan Taksiran  Persalinan (Rumus Neagle)  menunjukkan  maturitas
     janin. Tindakan Seksio  Sesarea dilakukan setelah ibu diberi anastesi  umum (Nar-
     kotik) dan  bayi lahir  pada jam 12.42  WITA. Segera  setelah bayi lahir, dilakukan  
     pemeriksaan  fisik  singkat  sesuai  kajian teori Bobak (2004). Data yang diperoleh
     bersifat objektif antara lain lendir encer warna putih tampak dari hidung dan mulut
     bayi belum bernafas spontan,warna kulit biru (sianosis). Hal ini menunjukkan  bah
     wa bayi mengalami masalah pada bersihan jalan nafas oleh karena akumulasi len-
     dir. Berdasarkan  kajian  teoritis  tentang  awal timbulnya  pernafasan  dipengaruhi
     oleh: 1)  Tekanan dada  melalui  pengempisan paru sela-ma proses persalinan yang
     merangsang masuknya  udara ke dalam paru secara mekanik dan dibantu oleh  sur-
     faktan serta aliran darah ke paru, pada saat itu sekitar 1/3 cairan akan diperas kelu-
     ar dari paru. PadaBayi  F.T hal tersebut tidak terjadi ( kehilangan manfaat  perasan
     toraks) karena lahir melalui tindakan Seksio Sesarea. Suhu badan lahir 35,2°c.  
     Hal ini  menandakan  bahwa  bayi mengalami  Hipotermia,dimana  dapat memper-  
     berat  Hipoksia.1 menit setelah  bayi lahir  (jam 12.43 WITA), dilakukan penilaian 
     Apgar skor I  untuk mengetahui  adanya Asfiksia Neonatorum dan  kebutuhan  tin-
     dakan  Resusitasi  sesegera  mungkin. Apabila Asfiksia tidak diatasi  segera, dapat  
     berakibat  pada  gangguan  berupa  Vasoparalisis  Arteriol  sehingga  mengganggu
     regulasi  transport  Oksigen  dan  akhirnya  Otak   mengalami   kerusakan  ataupun
    kematian  (YU &  Monintja,1997).  Pada  penilaian  Apgar Skor I  diperoleh nilai 3                             
    yang  menunjukkan  adanya  masalah  gangguan dalam pertukaran  gas akibat  efek
    pemberian narkkotik pada ibu. Pada menit ke-5 kelahiran, nilai Apgar skor menjadi
    5 setelah dilakukan tindakan pengisapan lendir dan pemberian oksigen tanpa  pene-  
    kanan  langsung. Data  yang  diperoleh  adalah  Denyut  Nadi 76 x/menit, irregular,
    usaha  bernafas  lambat,  tonus  otot  ditandai dengan ekstremitas sedikit  fleksibel,
    Refleks ditandai  dengan  gerakan sedikit, warna  kulit masih kebiruan. Hal ini ber-
    arti Bayi  F.T  masih  ada masalah dengan gangguan pertukaran gas dan membutuh
    kan  penatalaksanaan Resusitasi lanjut. Hipoksia  lanjut  pada Bayi F.T dipengaruhi  
    oleh faktor stressor intrapartum dan diperberat oleh adanya Hipotermia.Hipotermia 
    pada  Bayi F.T  dipengaruhi belum berfungsinya pusat  pengatur suhu tubuh secara
    sempurna.Pengkajian keperawatan lanjutan pada Bayi F.T dilakukan setelah Apgar   
    Skor  menit  ke-10  mencapai  7, sampai 1 jam kemudian. Berdasakan  kajian  teori 
    dari  Bobak (2004), Pemeriksaan Fisik lanjutan dilakukan setelah temperature bayi         
    stabil, namun pada Bayi F.T Pengkajian Fisik dapat diperoleh  pada menit  Ke- 10,
    menit ke-30 dan 1 jam lahir. Faktor penunjangnya adalah ketika bayi  berada dalam   
    inkubator, bayi  tidak mengenakan  pakaian  (suhu  telah diatur) sehingga  memper-  
    mudah untuk dilakukan inspeksi, Auskultasi, Palpasi, Perkusi. Data yang diperoleh  
    selama 1 jam  antara lain: Frekuensi  pernafasan 68 x/ menit disertai periode Apnoe  
    30 detik, adanya pernafasan  cuping hidung, sianosis pada ekstremitas atas dan  ba-
    wah  serta  daerah  sekitar  mulut,  adanya retraksi. Data  penunjang lainnya  adalah  
   bayi riwayat  Asfiksia dengan  Apgar Skor 3-5, riwayat  pemberian Anastesi  umum  
    pada   ibu  saat  tindakan  Seksio  Sesarea. Berdasakan   kajian  teoritis  Holloway
     (2003), Frekwensi  pernafasan   pada  bayi  adalah  30-60 x/ menit, periode  Apnoe                               
     tidak  lebih dari 15 detik.Adanya pernafasan cuping hidung, retraksi dada, dan sia-
     nosis  merupakan manifestasi  klinis dari bayi yang mengalami distress pernafasan
     ( Suriadi, 2001 ). Tanda- tanda  ini  terjadi  karena  masih  ada  efek  narkose  yang  
     membuat depresi Sistem Saraf Pusat terutama yang mengontrol pernafasan sehing-  
     ga  suplai  oksigen ke jaringan  terganggu  dan  kompensasinya  adalah  pernafasan  
     meningkat  dan  tidak  teratur. Data  lain  yang diperoleh  adalah  menurunnya/ ter-
     ganggunya  refleks  mencari  mengisap dan  menelan, bayi  rawat rerpisah  dengan
     ibu sehingga  Bayi F.T  sangat berresiko terhadap  perubahan  nutrisi;  kurang  dari 
     kebutuhan  tubuh. Bayi F.T  juga  rentan  terhadap infeksi Neonatus karena  sistem    
     kekebalan  tubuh  belum matur  (Bobak, 2004)  dan  adanya jaringan  terbuka yang
     belum  sembuh  (bekas  pemotongan  talipusat)  sebagai  media  masuknya kuman.

2.  Diagnosa Keperawatan
     Diagnosa  Keperawatan pada Bayi F.T ditegakkan  setelah data-data dikumpulkan,
     dianalisa sesuai dengna langkah dalam kajian teoritis Doenges (2001).
     Diagnosa  Keperawatan awal pada Bayi F.T  adalah masalah  yang  diperioritaskan
     untuk dipecahkan sesegera mungkin.Berdasarkan kajian teoritis dari Hidaya(2005)   
     ada  6 Diagnosa Keperawatan yang dapat  muncul  pada Neonatus dengan  Asfisia,
     antara lain gangguan  pertukaran gas, penurunan kardiak output,intoleran aktifitas,
     ganguan  perfusi jaringan  (renal) resiko tinggi terjadi infeksi, dan kurang pengeta-  
     huan. Pada Bayi F.T Diagnosa keperawatan awal yang ditegakkan adalah bersihan  
     jalan nafas  tidak  efektif  berhububungan  dengan   adanya  akumulasi lendir pada   
     jalan  nafas  karena masalah ini muncul segera  setelah lahir, gangguan pertukaran  
     gas  berhubungan  dengan   adanya  stressor  intra    partum  ( obat  bius )  sebagai   
     diagnosa  keperawatan  ke-2   karena,  masalah  ini muncul setelah evaluasi  Apgar 
      skor 1 menit  kelahiran  dan dianggap  paling mengancam kehidupan. Hipotermia 
      berhubungan  dengan  pusat  pengatur belum berfungsi dengna sempurna; sebagai  
      masalah aktual yang  memperberat Hipoksia.Penurunan kardiak output, gangguan   
      perfusi jaringan (renal), Intoleran  aktifitas  tidak  diangkat   karena  sifat diagnosa   
      ini  masih bersifat ancaman  dan  belum  ditemukan  data  penunjang untuk mene-  
      gakkan diagnosa tersebut.     
      Namun  rencana  tindakan  yang  disusun  sudah  termasuk  untuk  mengantisipasi
      timbulnya  masalah-masalah  ini. Untuk  Diagnosa Keperawatan Risiko terjadi in- 
      feksi  ditegakkan pada diagnosa  keperawatan lanjutan. Hal  ini menunjukkan ada- 
      nya kesesuaian atau persamaan 2 dianosa  dan  2  perbedaan antara kajian  teoritis  
      dengan praktik karena diagnosa yang disusun mengacu pada data atau respon bayi
      F.T. Diagnosa  Keperawatan lanjutan ditegakkan  setelah  pengkajian  lanjutan di-
      kumpulkan, dikelompokkan dianalisa 1 jam setelah kelahiran bayi.
      Dianosa keperawatan yang ditegakkan, yaitu: 1).Pola nafas tidak efektif  berhubu-  
      ngan dengan kelemahan otot otot pernafasan sekunder akibat efek narkotik. 2).
      Risiko  tinggi  terhadap  perubahan  nutrisi, dengan  faktor  risiko  meliputi  mele-  
      mahnya refleks mencari mengisap dan menelan sekunder akibat stressor kelahiran 
     dan  karena  bayi rawat terpisah dengan ibu.  3).Risiko terhadap infeksi Neonatus ,  
     dengan  faktor  risiko meliputi  belum matangnya sistem kekebalan tubuh terhadap  
     infeksi  dan  adanya  jaringan  terbuka  yang  belum  sembuh  ( bekas pemotongan  
    talipusat).

3.  Rencana/ Intervensi Keperawatan
           Pada kajian teoritis menurut Hidayat (2005) untuk mengatasi masalah Ganggu-
           an Pertukaran Gas antara lain monitoring gas darah, kaji denyut  nadi, monitor
           sistem  jantung  paru  dengan  melakukan resusitasi, pemberian  Oksigen  yang  
           adekuat . Pada Bayi F.T, intervensi monitot gas darah  tidak  direncanakan  da-
           lam  tindakan  karena  tidak tersedianya fasilitas pemeriksaan Gas darah di Ru-
           mah Sakit Umum Bethesda GMIM Tomohon.
           Intervensi lain disusun  berdasarkan  kajian  teori  Doenges (2001) dan  standar  
           Perawatan  Bayi dengan  Asfiksia di Pavilliun Hanna Rumah Sakit Umum  Be-
           thesda GMIM Tomohon, dengan melibatkan keluarga (ayah bayi)dalam peren-
           canaan serta penulis bekerja tim dengan perawat dan dokter di ruangan.
           Tujuan ditetapkan secara Spesifik, terjangkau, memiliki batas waktu, dan mem
           pertimbangkan  hak-hak pasien.Tujuan pada tahap awal ditetapkan setelah me-
           lakukan tindakan .
           Rencana/ Intervensi  Keperawatan   lanjutan  disusun  karena  adanya  masalah  
           yang muncul setelah 1 jam kelahiran yaitu masalah distress pernafasan. Renca-  
           na/  Intervensi  Keperawatan  lanjutan  disusun  sesuai  dengan  kajian  teoritis
           menurut  Suriadi (2001), data yang diperoleh pada F.T,Bayi, Fasilitas yang ter-  
           sedia standar perawatan yang berlaku dengan melibatkan ayah bayi dalam   pe- 
           rencanaan tindakan keperawatan. Tujuan ditetapkan dengan waktu  pencapaian
           kriteria keberhasilan tindakan dalam 24-48 jam kelahiran.

4. Implementasi Keperawatan
           Implementasi Keperawatan awal dilaksanakan berdasarkan rencana/ Intervensi
           awal  dilakukan segera dengan  memprioritaskan tindakan  mandiri  antara lain 
           mengatur posisi  tidur minimal ekstensi pada saat bayi diserahkan dokter sege-
           ra  setelah lahir,  melakukan  pengisapan lendir dari mulut dan hidung, menilai
           Apgar Skor,  kemudian  melaksanakan  tindakan kolaboratif antara  lain  mem-
           berikan oksigen 4 liter permenit, penatalasanaan pemberian bikarbonat natrium
           melalui vena umbilikalis. Secara  umum  pada bagian Implementasi keperawa-
           tan dilakukan sesuai dengan data, masalah dan respon bayi. Implementasi yang 
           tidak dilaksanakan pada awal  adalah mengisap isi cairan lambung,  karena  se-
           telah pengisapan awal tidak tampak adanya  mekoneum yang bercampur  pada 
           cairan  yang  dihisap. Tindakan ini  juga dilakukan  secara terbatas dan  sangat 
           hati-hati karena dapat meyebabkan iritasi permukaan jaringan dan  dapat mem-
           perburuk Hipoksia (Berhman, 1999).
           Dalam Implementasi juga ditemukan faktor  penghambat  dalam mempercepat
           proses  pemindahan  bayi dari  kamar operasi ke pavilliun Hanna  karena  jarak
           yang memakan waktu kurang lebih 2 menit untuk tiba di tempat.Disamping itu
           faktor lingkungan yang dingin dapat memperburuk Hipotermia.
           Keberhasilan tindakan Resusitasi dicapai setelah 10 menit kelahiran, hal ini di-
           tunjang oleh  adanya  kesiapan  alat- alat  resusitasi jantung paru dan  kerja tim 
           yang  maksimal . Bayi  berhasil melewati  masa krisis awal transisi kehidupan.
          Implementasi   Keperawatan  lanjutan  dilaksanakan  1 jam  kelahiran,  dengan
          tetap memprioritaskan  tindakan  Mandiri perawat  kemudian tindakan  edukasi
          pada keluarga dan penatalaksanaan tindakan kolaboratif . Dalam  Implementasi
          Keperawatan lanjutan , perawat  melibatkan ayah bayi pada hari I  dan  hari  II,
          kemudian pada hari III ibu sudah dilibatkan langsung terutama dalam memper-
          siapkan pemberian ASI pada saat kondisi bayi semakin membaik.
          Implementasi Keperawatan mandiri dilaksanakan penulis sejak jam 12.42  sam-
          pai 19.00 WITA. Hari II tanggal 9 Agustus 2006 jam 12.42 sampai dengan jam
          20.00  WITA, dan  pada  hari  III  yaitu  jam 12.42  sampai  dengan  jam  20.00  
          WITA.
          Implementasi  Keperawatan yang  tidak dilaksanakan pada Bayi F.T antara lain
          penatalaksanaan pemeriksaan  HB karena kondisi bayi 24 jam setelah lahir ber-
          angsur-angsur membaik.Menimbang Berat Badan dilakukan pada Hari II sesuai 
          prosedur  yang  berlaku  di pavilliun Hanna. Pemberian  makan  tidak diberikan  
          pada hari I untuk menghindari terjadi Aspirasi. Tindakan ini dilakukan pada ha-
          ri II secara hati-hati.Hari III sudah di beri ASI sesuai kebutuhan harian.

5. Evaluasi Keperawatan
          Evaluasi Keperawatan awal dilakukan  menit 5 setelah kelahiran melalui Apgar 
          Skor. Nilai  yang diperoleh adalah 5, lendir  terhisap dalam tabung : 8cc. Untuk  
          masalah  bersihan  jalan nafas mulai  dapat dipertahankan. Apgar skor 10 menit  
          kelahiran  meningkat  menjadi 7, hal  ini menunjukkan masalah kepatenan jalan
          nafas dapat dipertahankan. untuk masalah  hipotermia teratasi setelah 2 jam ke-
          lahiran sesuai dengan  waktu  kriteria  yang  ditetapkan. Bayi  F.T  memberikan  
          respon positif terhadap tindakan yang diberikan.
          Evaluasi  Keperawatan  Lanjutan dilakukan pada hari pertama yaitu 6 jam kela-
          hiran, berdasarkan  kajian teori tentang masalah distress pernafasan dapat mem-
          baik  setelah 6 jam kelahiran. Evaluasi hari  II dilakukan pada 24 jam kelahiran,
          Evaluasi Akhir pada 48 jam kelahiran (tanggal 10 agustus 2006).
          Dari 3 masalah yang  ada  pada  pengkajan lanjutan, diperoleh gambaran keber-
          hasilan  penulis mengatasi masalah  pola  nafas  tidak efektif, nutrisi, dan risiko
          infeksi yang teratasi secara keseluruhan pada 48 jam kelahiran.

PENUTUP

A. Kesimpulan
    Dari  hasil penerapan  Asuhan  Keperawatan pada Bayi F.T  dengan Asfiksia . Berat  di Pavilliun Hanna  Rumah  Sakit  Umum  Bethesda GMIM Tomohon 
    tanggal  8 sampai  dengan 10 Agustus  2006, penulis  berkesimpulan  bahwa:
    1. Pengkajian Keperawatan
        Pada  Pengkajian Keperawatan awal diperoleh gambaran adanya persama- 
        an atau kesesuaian  data antara data  kajian  eoritis maupun data dalam pe- 
        nerapan Asuhan Keperawatan. Hal ini dapat terlihat pada penilaian  Apgar
        skor. Selain itu diperoleh gambaran perbedaan atau kesenjangan data anta-
        ra lain tidak ada data tentang Gas darah, data  penunjang  untuk  menegak-
        kan  beberapa diagnosa sesuai kajian teoritis dari Hidayat (2005).
        Pada Pengkajan Keperawatan Lanjutan  diperoleh  gambaran  tentang data 
        baru  yaitu tanda- tanda distress  pernafasan  yang ada  keterkaitan  dengan    
        masalah Asfiksia Neonatus. Selain itu diperoleh  gambaran  faktor  penun-
        jang  kecepatan dalam memperoleh data, karena  bayi sudah berada  dalam 
        incubator ½ jam setelah lahir, tanpa mengenakan  pakaian  sehingga mem-  
        permudah perawat dalam pemeriksaan fisik.
    2. Diagnosa Keperawatan
        Pada  Diagnosa Keperawatan  awal  ditemukan  kesenjangan  antara  teori 
        dan  praktik,  dimana  pada F.T,Bayi diagnosa Keperawatan yang ditegak-  
        kan terlebih dahulu adalah bersihan  jalan nafas tidak efektif,  hal  ini dise-
        babkan karena data awal yang  diperoleh  sangat  menunjang  untuk mene-
        gakkan diagnosa ini.Diagnosa ke-2 sesuai dengan kajian teoritis. Diagnosa
        ke-3  tidak  terdapat  pada kajian teoritis Hidayat (2005)., namun diagnosa
        ini harus tetap ditegakkan  karena bersifat actual dan merupakan salah satu 
        prioritas masalah keperawatan yang harus segera dipecahkan. Ada 5 Diag- 
        nosa Keperawatan yang tidak ditegakkan pada diagnosa awal, karena sifat
        5 Diagnosa  Keperawatan  ini masih  bersifat  resiko dan  data-data  belum
        menunjang untuk menegakkannya.
        Pada  Dignosa Keperawatan  lanjutan  ditegakkan  setelah ditemukan data-
       data baru pada pengkajian lanjutan.
             3. Rencana/ Intervensi Keperawatan
                 Pada Rencana/ Intervensi Keperawatan disesuaikan dengan teori dari Hida-
                 yat (2005) dan digabungkan dengan teori dari Doenges (2001) serta standar
                 perawatan  Bayi  di  Pavilliun  Hanna. Intervensi yang tidak disusun adalah
                 Monitor Gas Darah  karena  tidak tersedianya  fasilitas pemeriksaan  di Ru-
                 mah Sakit ini. Gambaran umum dari Rencana/ intervensi Keperawatan lan-
                 jutan adalah diseseuaikan dengan masalah yang ada, fasilitas yang tersedia
                 dan melibatkan keluarga dalam proses keperawatan
           4.   Implementasi Keperawatan
                 Gambaran  umum   tentang  Implementasi  Keperawatan  dalam  penerapan
                 adalah  setiap  tindakan  yang  dilaksanakan  mengacu  pada  rencana kepe-
                 rawatan yang  telah  disusun  sebelumnya  sesuai  dengan  langkah-langkah
                 pada  kajian  teoritis  tentang  Asuhan  keperawatan. Ada sedikit perbedaan
                 yang tampak yaitu  pada  tindakan  menghisap cairan  lambung  yang  tidak
                 dilaksanakan  karena  tidak  ada cairan yang dihisap bercampur  meconeum 
                 pada Bayi  F.T .Pada  Implementasi Keperawatan juga diperoleh gambaran 
                 tentang faktor penghambat dalam mempercepat proses  tindakan dan faktor
                 kemudahan  serta implementasi  yang  dilaksanakan  selalu  mengacu  pada
                 respon bayi, sesuai dengan kajian teoritis.
           5.  Evaluasi Keperawatan
                Pada  Evaluasi Keperawatan diperoleh gambaran  tentang  keberhasilan tin-
               dakan pada 48 jam kelahiran karena adanya faktor-faktor penunjang  seperti
               yang sudah dijelaskan diatas.

 B. SARAN
      1. Bagi perawat
          Perawat  sebagai  pemberi  Asuhan Keperawatan diharapkan untuk  terus
          meningkatkan  pengetahuan dan ketrampilan  serta terus menanamkan si-
          kap ingin membantu menyelesaikan masalah keperawatan yang dihadapi
          pasien. Kesadaran akan masalah serius yang sedang diihadapi pasien dan
          kebutuhan  akan  tindakan yang diperlukan  sesegera mungkin membantu
         dalam  mencapai  keberhasilan  memecahkan masalah pasien secara mak-
          simal.


      2. Bagi Rumah Sakit Umum Bethesda GMIM Tomohon
          Diharapkan  untuk terus  meningkatkan  ketersediaan fasilitas  penunjang
          pelayanan  kesehatan, dan  terutama menyediakan tenaga  yang memadai 
         dan terampil khususnya terlatih melaksanakan tindakan Resusitasi,sehing-
          ga akan diperoleh mutu pelayanan yang maksimal.

      3. Bagi Institusi Akademi Keperawatan Bethesda Tomohon
          Diharapkan  untuk  dapat meningkatkan mutu pendidikan khususnya ten-
          tang Asuhan Keperawatan padaNeonatus dengan Asfiksia, sehingga akan
          diperoleh tenaga keperawatan yang siap pakai.

       4. Bagi Keluarga Pasien
           Diharapkan untuk terus meningkatkan kerjasama, Meningkatkan  penge-
           tahuan   tentang  masalah- masalah  yang  harus  diantisipasi  khususnya 
           pada  Keluarga  yang memiliki ibu hamil dengan risiko tinggi untuk me-
           minimalisasi  kemungkinan yang dapat  terjadi pada  saat kelahiran  bayi
           seperti masalah Asfiksia Neonatal.

KEPUSTAKAAN


Berhman, Kliegman, Arvin (1999). Ilmu Kesehatan  Anak, Nelson, Vol.1.  
             Edisi 15.EGC, Jakarta .
Bobak Lowdermilk, Jensen (2004). Buku  Ajar  Keperawatan Maternitas,    
             Edisi 4. EGC, Jakarta.
Carpenito L.J (2000). Buku  Saku  Diagnosa  Keperawatan. Edisi 8.
             EGC,  Jakarta.

Carpenito L.J(1999). Rencana  Asuhan  dan Dokumentasi  Keperawatan;  
              Diagnosa  Keperawatan  dan  Masalah  Kolaboratif. Edisi  2. EGC,  
                 Jakarta.
Dep.Kes R.I(1989).Dasar- Dasar Keperawatan, Edisi 1. Pusat Pendidikan  
             Tenaga Kesehatan, Dep.Kes.R.I.
Djauhariah A.Madjid(1999).Diktat Kuliah Perinatologi, Sub Bagian Neo-   
             natologi –  BIKA. Fakultas  Kedokteran  Universitas  Hasannudin,   
             Ujung Pandang.
Doenges M.E, Moorhouse Mary Frances(2001). Rencana Perawatan Ma-  
              ternal / Bayi. Edisi 2.EGC. Jakarta.
Gaffar L.J (1997).Pengantar Keperawatan Profesional.EGC,Jakarta.
Holloway B.W (2003).Rujukan  Cepat  perawatan Klinis,cetakan I. EGC,     
              Jakarta.
Hidayat A.A (2003).Riset Keperawatan dan Tehnik penulisan  Ilmiah.
              Edisi I.Salemba Medika.
Hidayat A.A (2005).Pengantar Keperawatan Anak I. EGC,Jakarta.
Jumiarni,  Sri Mulyati,  Nurlina (1994). Asuhan  Keperawatan  Perinatal.  
              EGC. Jakarta.
Kumala, dkk (1998).Kamus Saku Kedokteran Dorland. Edisi 25.EGC.Ja-
               karta.
               
Mansjoer A (2000).Kapita Selekta Kedokteran.Edisi 3.Jilid 2. Media Aes-  
              culapius,Jakarta.
Mochtar R (1998).Sinopsis Obstetri:Obstetri Operatif,Obstetri Sosial.Edisi
         2.EGC,Jakarta.
Pendidikan Ilmu Kesehatan Anak Berkelanjutan I; Asfiksia Perinatal dan   
            Resusitasi  Neonatus   Masa  Kini.  Bagian/  SMF  Ilmu  Kesehatan
            Anak Fakultas  Kedokteran Universitas Padjajaran  RSUP Dr. Hasan  
             Sadikin Bandung, 1999.
Palupi Widyastuti (2004). Pedoman  praktis Safe Motherhood, Paket Ibu     
                   dan Bayi.EGC, Jakarta.
Suriadi,Yuliani (2001).Asuhan Keperawatan padaAnak. Cetakan I.Pener-     
  bit CV. Sagung Seto,Jakarta.
Tucker S.M,Canobblo,Elanor V.P,Wels M (1998) Standar Perawatan Pa-   
 sien. Edisi 5.EGC,Jakarta.
YU Victor Y.H, Monintja  Hans E (1997).Beberapa  Masalah  Perawatan   
                   Intensif Neonatus.Balai  Penerbit  Fakultas  Kedokteran Universitas  
                  Kedokteran Indonesia .

III.       PERENCANAAN, IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN
            Nama : F.T. Bayi.                                                 No.Reg. :22162
            Umur : Neo.
Tgl /
Jam/
no.
DATA
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
    RENCANA
KEPERAWATAN
RASIONAL
IMPLEMENTASI
KEPERAWATAN
EVALUASI
KEPERAWATAN



TUJUAN
INTERVENSI



8/8 -
2006
12.42

   1.
- Lahir  
  seksio    
  sesaria.

- Lendir
  encer  
  warna  
  putih
  tampak
  dari 
  hidung dan
  mulut.

- Bayi  
  belum
  bernafas
  spontan.

- Warna
  kulit
  biru (sianosis)
Bersihan jalan nafas tidak efek-
tif berhubungan dengan adanya akumulasi mukus pada jalan nafas
bersihan jalan efektif
nafas setelah perawatan

Kriteria :
- Tidak ada aku-  
   mulasi lendir    
   pada mulut dan
   hidung.

- Bayi mulai ber-
   nafas spontan.

- Warna tubuh
   kemerahan.
A. Mandiri
- Kaji frekwensi
  dan upaya perna-
  fasan awal.








- Tempatkan bayi
  pada posisi mini-
  mal ekstensi atau
  posisi trendelen -
  burg yang dimodi
  fikasi pada sudut
  10 derajat.







- Bersihkan jalan
  nafas hisap naso-
  farings dan orofa
  rings dengan per-
  lahan sesuai ke - 
  butuhan dengan
  menggunakan ka
  teter penghisap.









- Berikan  rang -
  sangan taktil dan
  sensori yang
  tepat.








-Hisap isi lambung
 bila cairan amnio-
 tik mengandung
 mekoneum.







- Evaluasi skor  
  apgar  menit ke,  
  10, 20 setelah  
   kelahiran




















B.Kolaborasi.
- Berikan oksigen
  hangat melalui
  masker 4-7 L/
  menit bila diindi-
  kasikan.




- Pernafasan
  pertama
  merupakan pernafa
  san paling sulit.  
  Adanya akumulasi 
  mucus pada jalan
  nafas mempersulit 
  upaya bernafas
  awal dari
  neonatus.

- Mempertahankan
  kepatenan jalan
  nafas dan memu-
  dahkan drainase
  mucus dari
  nasofaring dan
  trakhea dengan
  gaya gravitasi
  ( Bobak, 2004).





- Membantu menghi
  langkan akumulasi
  cairan,  memudah-
  kan upaya pernafa-
  san dan membantu
  mencegah aspirasi
  (Bobak, 2004).










-Merangsang upaya
 bernafas sehingga
 dapat meningkat   
 kan  inspirasi  
  oksigen
 (Doenges, 2004).






- Membantu me –
  ngurangi /
  mencegah
  insiden pneumonia
  aspirasi pada
  periode awal  
  kehidupan   
  neonatus.
  (Doenges, 2001).


- Membantu menen-
  tukan kebutuhan
  terhadap intervensi
  segera (misalnya;
  penghisapan, oksi-
  gen). skor total 
  dari 0-3menunjuk-
  kan asfiksia berat
  atau kemungkinan
  disfungsi pada kon
  trol neurologist ter
  hadap pernafasan.
  skor 4-6 memper-
  berat kesulitan ber
  adaptasi terhadap
  kehidupan ekstra-
  uterine. skor total
  7-10 menandakan
  tidak ada kesulitan
  beradaptasi terha-
  dap kehidupan  
  ekstrauterin.



- Mendukung upaya
  pernafasan & men-
  cegah hipoksia yg  
  dapat berakibat pa- 
  da cedera / kemati-
  an sel terutama
  sel- sel organ vital.
  Jam 12.42
- Menginspeksi
  frekwensi dan
  upaya pernafasan
  awal.
* Upaya pernafa -
   san awal lambat/  
   apnoe.




- Menempatkan ba
  yi segera pada
  posisi minimal  
  ekstensi dengan
  mengganjal pung
  gung bayi dengan
  kain dan posisi  
  kepala miring
  kiri.
* Bayi dalam posi-
  si minimal eksten
  si dengan leher
  miring kiri.

- Melakukan peng-
  hisapan mucus
  dari orofarings 
  dan nasofarings  
  secara perlahan
  selama 10 detik
  tiap satu periode
  untuk mencegah
  spasme laring.
* Lendir yang ter -
  hisap dlm tabung
  penghisap ± 8 cc,
  warna putih 
  encer bercampur  
  air ketuban.

Jam 12.45
- Menepuk secara
  perlahan tapak
  kaki kiri bayi dan     
  memberi masage
  perlahan pada
  dada bayi setelah 
  tindakan penghi -
  sapan lendir.
* Tindakan dilaku-
  kan sekali.Upaya
  bernafas lambat.

-









Jam 12.43
- Mengukur apgar
  skor 1 menit
  setelah kelahi-  
   ran.
* Denyut jantung :          
    < 100
* Usaha bernafas :
    Lambat.
* Tonus otot :
    Lumpuh.
* Refleks :
   Tidak bereaksi
* Warna :
    Biru/sianosis.
* Jumlah skor : 3
  ( menit 1)

  Jam 12.47
- Mengevaluasi  
  apgar skor 5   
  menit kelahiran
*A-S: 5



- Memberikan oksi
  gen melalui mas-
  ker 4 liter/menit.




Tgl 08-08-2006
Jam 12.45.
S  :  -

O :- Jumlah skor
        menit 5 : 5.

     - Upaya berna-
        fas lambat /
        apnoe.

     - Lendir yang
       terhisap dalam 
       tabung ± 8cc,        
       warna putih
       encer,bercam-   
     pur air  ketuban

A : Setelah perawa
     tan 2 menit ber-   
     sihan jalan na -
     fas mulai dapat
     dipertahankan  
     ditandai dengan
     lendir yang ter
     hisap dalam ta-
     bung penghisap
     8 cc, warna  
     putih encer ber
     campur air ke-
     tuban.

P : Lanjutkan
     intervensi yang
     ada. Evaluasi
     segera setiap
     selesai tindakan
8/8-
2006
12.47


  2.
- Lahir
   seksio
   Sesaria 
   atas
   indikasi   
   ibu
  primitua,jam
  12.42 WITA
-Riwayat
  pemberian 
  anastesi
  umum
  pada ibu
  saat
 pembedah
 an.
- Apgar Skor
  3-5 pada 5 
  menit perta -
  ma kelahiran
Gangguan pertuka
ran gas berhubung
an dengan adanya
stressor intrapar -
tum (obat bius).
Bayi dapat mem-
pertahankan ja -
lan nafas paten
setelah perawa -
tan 10 menit kela
hiran (Holloway
2003).
Kriteria :

- Upaya bernafas
  spontan ditan 
  dai dengan bayi
  mulai menangis
  kuat.
- Denyut jantung
  lebih dari 100x/
  menit.
- Ada reaksi me-
  lawan saat di -
  beri rangsa-  
  ngan.
- Tubuh mulai
  kemerahan.
- Ada gerakan
  aktif.
- Apgar Skor 10.

A. Mandiri
- Tinjau status
  janin intrauterine,
  termasuk DJJ,  
  warna,serta jum-
  lah cairan amnio-
  tik.




















- Perhatikan ada -
  nya pandangan
  mata lebar.






- Observasi warna
  kulit dan luasnya
  sianosis.
  Kaji tonus otot.








- Perhatikan
  denyut jantung.












- Lakukan penilai-
  an lanjutan apgar
  skor 10 menit se-
  telah kelahiran.













B. Kolaborasi
- Lakukan penghi-
  sapan dalam bila
  bayi menunjuk -
  kan bukti depresi
  pernafasan yang
  tidak berespon
  terhadap penghi-
  sapan perlahan
  atau rangsangan
  taktil.




- Berikan tindakan
  resusitasi dengan
  segera bila bayi
  menunjukkan tan
  da distress perna-
  fasan / Asfiksia
  berat.













- Lakukan pemija-
  tan jantung.
















-Lanjutkan dengan
 pemberian natri-  
 um bikarbonat se-  
 suai dengan 
 prosedur tetap 
 Rumah Sakit


















-Segera pindahkan
 bayi ke ruang pe - 
 ra watan intensive 
 bayi.

- Komplikasi prana-
  tal dapat berpenga-
  ruh pada intrapar-
  tum yang dapat 
  membuat distress
  janin dan hipoksia
  yang menetap
  sampai pada
  periode
  segera pascanatal,
  mengakibatkan
  upaya pernafasan   
  tertekan atau tidak
  efektif. Penurunan
  variabilitas DJJ 
  atau
  cairanamniotik
  mengandung  
  mekoneum akan  
  memerlukan
  upaya-upaya
  lebih besar untuk
  mencapai  stabi -
  lisasi .
  setelah kelahiran.

- Menandakan
  hipoksia
  intrauterus kro-
  nis yang memerlu-
  kan tindakanresusi
  tatif dengan segera
  (YU & Monintja,
  1987).

- Sianosis sentral me
  nunjukkan lambat-
  nya sirkulasi peri-
  fer dan sentral atau
  ketidaadekuatan
  oksigenisasi  
   jaringan
  (Doenges, 2001).



- Frekwensi jantung
  kurang dari  100
  dpm menandakan  
  Asfiksia berat dan   
  kebutuhan  
  terhadap resusitasi 
  segera. Takikar-
  dia (frekwensi jan-
  tung >160 dpm) 
  menandakan
  Asfiksia baru atau
  respon normal.


- Membantu menen-
  tukan kebutuhan
  terhadap intervensi
  selanjutnya
  (Doenges, 2001).













- Meningkatkan
  jalan nafas
  paten.Bila terdapat
  bercak mekoneum
  perlu diberikan
  tindakan
  penghisapan lebih
  dalam dengan hati-
  hati untuk mence-
  gah terjadinya  
  aspirasi  
  mekoneum.


- Memberikan
  dukungan pernafa-
  san dan suplai oksi
  gen yangmaksimal
  terhadapkegagalan
  bernafas secara
  spontan.













- Diindikasikan apa-
  bila 15-30 detik tin
  dakan pemompaan  
  nafas, denyut jan-
  tung < 60 x / menit  
  atau 60-80 x/menit
  &tidak bertambah.
  Hipoksia dapat   
  menyebabkan
  penurunan fungsi
  jantung
  (Bobak, 2004).






- Diberikan kepada
  bayi yang tidak
  menunjukkan
  respon terhadap
  ventilasi yang
  adekuat dengan  
  oksigen 100% dan  
  pemijatan dada.
















- Bayi dengan
  Asfik sia berat
  memerlukan
  perawatan intensiv  
  selama 48-72 jam
  untuk penanganan
  dan observasi
  ketat.  
  (YU&Monointja,
  1987)
Jam 12.48.
- Meninjau kemba
  li status janin in-
  trapartum, terma-
  suk DJJ dan
  menginspeksi ka-
  rateristik cairan
  amniotik saat 
  bayi baru lahir.
* DJJ : 12-11-12
  (berdasarkan do-
  kumentasi status
  ibu).
* Cairan amniotik
  warna putih ber-
  campur mucus ±
  8cc dalam tabung
  penghisap lendir
  saat dilakukan
  penghisapan
  mucus.






- Menginspeksi a-
  danya pandangan
  mata lebar pada
  saat bayi lahir.
* Pandangan mata
  lebar ada.



- Mengamati war-
  na kulit dan luas-
  nya sianosis saat
  bayi lahir dan pa-
  da saat evaluasi
  tindakan yang
  diberikan.
* 5 mnt kelahiran
  sianosis sentral
  masih ada.

Jam 12.49.
- Mengauskultasi
  denyut jantung se
  gera setelah tinda
  kan penghisapan
  lendir dan perang
  sangan taktil.
* Nadi < 100 dpm.
  (dalam 6 detik :
  6 denyut).




Jam 12.52.
- Melakukan peni-
  laian Apgar Skor
  10 menit setelah
  kelahiran / tinda-
  kan, A-S :7.
* Usaha bernafas :
   mulai menangis
   kuat.
* Denyut jantung :
   104 x/menit.
* Refleks: ada ge-
   rakan sedikit.
* Warna :tubuh ke
  merahan, tangan
  & kaki kebiruan.
* Tonus otot : eks-
  tremitas fleksibel

-












Jam 12.45.
- Melakukan tinda
  kan resusitasi
  aktif + oksigen
  100 % dan meni-
  lai tindakan yang
  diberikan.

Jam 12.47.
* Usaha bernafas :
   lambat/ apnoe.
* Denyut jantung :
   76 x/m, ireguler.
* Refleks: ada ge-
   rakan sedikit.
* Warna :masih ke
   biruan / sianosis
* Tonus otot : eks-
  tremitas fleksibel


- Melakukan kom-
  presi jantung
  dengan cara me-
  nekan 1/3 bawah
  sternum dengan
  kecepatan 2x per
  detik dengan isti-
  rahat ½ detik sete
  lah pijatan ke 3,
  untuk memompa
  pernafasan.
  Menilai denyut
  jantung setelah
  30 detik tindakan
* Denyut jantung :
  76 x/m, ireguler.

Jam 12.49.
- Penatalaksanaan
  terapi natrium
  bikarbonat dalam
  dekstrose 10% se
  banyak 5/5 cc me
  lalui vena umbili
  kalis, dan menilai
  segera respon
  bayi.
Jam 12.50
* Denyut jantung:
  102 x/menit.
* Usaha bernafas:
   ditandai dengan
  bayi mulai me-
  nangis kuat.
*Ekstremitas ma-
  sih kebiruan, tu-
  buh mulai keme-
  rahan.



Jam 13.02.
- Memindahkan
  bayi segera di ka-  
  mar bayi (Pavili-
  un Hanna) dan
  menempatkan ba
  yi dibawah lam -
  pu 75 watt untuk 
 penerangan lanjut
Tgl 08-08-2006
Jam 12.52.
S : -
O : - Usaha berna-
        fas ditandai
       dengan bayi
       mulai me -
       nangis kuat.
- Denyut jan -
  tung 104 x/m.
-  Refleks : ada
  gerakan sedi-
  kit.
-  Warna : tubuh
  mulai kemera- 
  han tangan &
  kaki kebiruan.
-  Tonus otot :
  ekstremitas se
  dikit fleksibel
  ( nilai apgar
  skor 10 menit
  adalah :7).

A : Bayi mulai da-
      pat memperta-
      hankan kepate-
      nan jalan nafas
      ditandaidengan
      Apgar Skor 10
      menit lahir  
      mningkat  
      menjadi 7.

P :-Oksigen turun
     kan perlahan
     sampai pernafa
     san 30-60 x/m,
     teratur.
   -Observasi
     ketat.
    -Kolaborasi me-
     dik dengan tim
     medik untuk
     tindakan medik
     lanjut sesuai
     prosedur yang
     berlaku.
 

08/08
2006
12.42


   3.

- Suhu badan:
  35,2°c.
- Nadi: 76x/m
  Ireguler.
- Akral dingin
- Tubuh biru
  ( sianosis ).

Hipotermia berhu-
bungan dengan ma
ladaptasi dengan lingkungan ekstra
uterine.

Menghangatkan bayi yang menga
lami hipotermia
dalam 2 jam
(Bobak, 2004).
Kriteria :
- Suhu badan :
  36,5-37°c.
- Akral hangat.
- Tubuh kemera-
  han.

A. Mandiri
- Keringkan kepa -
  la dan tubuh bayi 
  dengan segera se-
  telah lahir, kena -
  kan penutup kepa
  la dan bungkus
  dalam selimut
  hangat.





- Tempatkan bayi
  baru lahir dalam
  lingkungan  ha-  
  ngat.Hangatkan  
  objek yang ber-  
  sentuhan dengan  
  bayi seperti  
  timbangan,  
  stetoskop,meja 
  pemeriksaan,ta  
  ngan.






- Perhatikan suhu  
  lingkungan.hi -
  langkan aliran  
  udara dan ha- 
  ngatkan oksigen 
  bila diberikan  
  melalui masker.







-Evaluasi Suhu Ba
 dan bayi.









-Pertahankan suhu
 Udara 1,5°clebih  
 hangat dari suhu
 tubuh.




- Observasi bayi
  terhadap tanda
  stress dingin












B.Kolaborasi
- Beri dukungan
  Metabolik :Glu-
  kosa atau Buffer
  sesuai indikasi


























- Periksa gula da-
  rah sesuai indika-
  si.


- Mengurangi kehila
  ngan panas akibat
  evaporasi dan kon-
  duksi, melindungi
  kelembaban bayi
  dari aliran udara &
  membatasi stress
  akibat perpindahan
  dari lingkungan
  intrauterine keling-
  kungan ekstraute-
  rine.

- Mencegah kehilang
  an panas melalui
  konduksi, dimana
  panas dipindahkan
  dari bayi baru lahir
  ke objek atau per -
  mukaan yang lebih     
  dingin daripada
  bayi.








-Pemurunan dalam 
 Suhu lingkungan  
 2°c meningkatkan  
 konsumsi oksigen.  
 Kehilangan panas 
 melalui  konveksi  
 terjadi melalui ali- 
 ran udara yang le-  
 bih dingin.Kehila-
 langan melalui Ra-
 diasi adalah perpin-
 dahan panas dari 
 bayi ke objek lain.   

-Suhu badan harus di
 pertahankan 36,5°c-
 37°c.(Bobak,2004)








-Peningkatan suhu
 yang terlalu cepat
 dapat mengakibat-
 kan Apnea pada  
 bayi. (Doenges,2001)


-Bila suhu turun di
 bawah normal,  
 meningkatkan Laju  
 metabolic dan kon-  
 sumsi oksigen. Eks-   
 tremitas fleksi dan 
 kontak dengan
 sumber dingin me-
 ningkatkan pelepa-
 san panas dari sim-
 panan lemak coklat
 dan menyebabkan
 vasokonstriksi,men-
 dinginkan kulit.


-Efek samping dari
 Hipotermia lama
 dapat meningkatkan
 konsumsi oksigen,
 hipoksia,asidosis,
 dan penurunan per-
 nafasan,peningkatan
 laju metabolic dan
 konsumsi glukosa.
 Pemberian Glukosa
 atau bikarbonat da-
 pat memperbaiki
 hipoglikemia,asido-
 sis,Asfiksia.








-Menentukan kebu-
 tuhan intervensi  
 lanjut.Prosedur pe-  
 meriksaan gula da-
 rah pada neonatus di
 RSU Bethesda GM-
 IM antara lain dila-
 kukan pada setiap  
 bayi lahir seksio dan 
 Asfiksia,tanda hipo-
 Glikemia.




Jam 12.42.
- Mengeringkan ke
  pala dan tubuh  
  bayi dan meng - 
  ganti kain yang  
  basah dengan  
  kain yang kering  
  serta menu
  tup bayi dengan
  kain tersebut.
 *Tubuh bayi ter-
   bungkus kain.


- Menempatkan
  bayi diatas meja  
  yg dialas dengan
  kain hangat saat
  bayi lahir.
Jam:12.52
-Menempatkan ba-
 yi dalam kauve de
 ngan lampu 75 
 watt
Jam: 13.02
-Menempatkan ba-
 yi dalam Inkuba-
 tor dengan suhu
 37°c.

Jam12.42
- Mempertahankan
   Suhu lingkungan
   Ruang perawa-
   tan dengan menu        
   tup pintu  dan  
    memasang lam- 
   pu 75 watt diatas
   meja bayi segera
   saat bayi ditem-  
   patkan.




-Mengevaluasi su-
  hu badan bayi  
  setiap 30 menit
  *Jam 13.10
    SB: 36,2°c
  *Jam 13.45
    SB: 36,5°c
  *Jam 14.42
    SB: 36,8°c


-Mengatur suhu
 Incubator 1° le-
 bih hangat dari
 suhu bayi.
 *SB:36,8°c,
   Suhu incubator:
   37°c.

-Mengobservasi
  bayi secara ke-
  tat terhadap tanda
  stress dingin se-
  perti adanya 
  penurunan suhu,
  ekstremitas fleksi
  sianosis.







Jam 13.42
-Berkolaborasi
 dengan dr.D.R me
 lalui telephon un-
 tuk IVFD   
 Dekstrose 5%+ 
 Bikarbonat  
 Natress.
 * Advis:IVFD
    Dekstrose 5% +
    BikNat 60x2,7/  
    24 jam

Jam: 13.45
-Menjelaskan pada  
  ayah bayi ten-
 tang prosedur tin-
 dakan medik me-
 masang infus pa-
 da F.T,Bayi.

Jam:13.50
-Memasang IVFD
 Pada lengan kiri
 Bayi dengan teh-
 nik aseptic.
 *IVFD terpasang
   7 tetes/menit


Jam 13.42
-Memeriksa gula
  Darah 1jam lahir
  * hasil:63 mg%
-Mengontrol Gu-
  la darah 3 jam
  lahir.
  * Hasil :74 mg%

Tgl 08-08-2006
Jam 14.42.
S : -
O : - Suhu badan :
        36,8°c.
      - Nadi: 104x/m
      - Akral hangat.
      - Tubuh keme-
         rahan.
      - Ekstremitas
         masih siano-
         sis.
A : Tubuh bayi
      mulai dapat di
      hangatkan.
P :Kaji lebih lanjut
    penyebab siano-
    sis.
    Intervensi lain
    dilanjutkan.





Tgl/
jam/
No.

DATA

DIAGNOSA KEPERAWATAN


PERNCANAAN
KEPERAWATAN


IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

EVALUASI
KEPERAWA- TAN





TUJUAN
INTERVENSI
RASIONAL




8/8-
2006
13.45
WITA
 
    4.
-Frekwensi   
  Pernafas-
  an 68x/m  
  disertai  
  periode   
  apnoe  se-  
  lama 30  
  detik.

- Adanya  
  pernafa-
  san cu - 
  ping  
  hidung.

- Sianosis     
   pada eks-  
   tremitas   
   atas  &  
   bawah  
  serta dae-   
  rah seki-  
  tar mulut.

- Riwayat  
  asfiksia
  dengan   
  Skor Ap- 
  gar 3-5  
  menit
  pada 5  
  menit ke- 
  lahiran.

- Riwayat  
  pembe    
  rian anas-
  tesi um-
  um pada  
  ibu saat    
  pembeda- 
  han.

.Pola nafas  
  tidak efek-  
  tif  berhu-  
  bungan  
  dengan  
  kelema-
  han otot-
  otot perna-
  fasan   
  sekunder  
  akibat efek 
  narkotik
Pola nafas efektif
Kriteria Hasil:
setelah 6 jam di berikan tindakan
Keperawatan
- Frekwensi per-  
  nafasan 30-60  
  x/m.

- Tidak ada  
   apnoe.

- Tidak ada  
   pernafasan    
   cuping hidung.

- Ekstremitas dan
  daerah bibir 
  kemerahan.
A. Mandiri
- Monitor adanya 
  pernafasan cuping 
  hidung, retraksi
  dada,mendengkur,  
  ronki.







- Kaji lebih lanjut
  frekwensi pernafa
  san; perhatikan  
  adanya takipnoe   
  (frekwensi lebih  
  dari 60x / menit).  
  Evaluasi pernafa - 
  san setiap 30menit  
  atau  setiap 1 jam.






- Tinjau ulang keja-
  dian prenatal & in 
  trapartum seperti
  penggunaan narko
  tik pada saat tinda
  kan bedah sesaria 
  atau aspirasi.








- Posisikan bayi
  miring dengan
  gulungan handuk
  untuk menyokong
  punggung.







- Informasikan
  kepada orang tua
  tentang kebutu-
  han kebutuhan 
  neonatus segera
  dan perawatan
  yang diberikan.






- Hisap nasofarings 
  sesuai kebutuhan.
  perhatikan warna,
  jumlah & karakter
  mukus yang
  dimuntahkan.








- Monitor bayi  ter-   
   hadap adanya sia-  
   nosis .
 









- Pantau tanda- 
  tanda hipotermia   
  dan hipertermia.



























- Perhatikan 
  kesimetrisan
  gerakan dada.






- Auskultasi bunyi
  jantung  perhati-
  kan adanya
  murmur.





























B. Kolaborasi
- Beri suplemen ok-
  sigen sesuai indi-
  kasi kondisi bayi
  baru lahir. Catat 
  penggunaan dan  
  hasil dari  penga-  
  wasan dan duku - 
   ngan.











- Kaji kadar HB
  dalam darah .





- Tanda-tanda  ini   
  merupakan  
  adanya distress  
  pernafasan.(su-
  riadi,2001).







- Bayi  menjadi  
  takpnoe  oleh 
  respons  terha-
  dap  peningka-
  tan kebutuhan 
  oksigen  yang 
  dihubungkan  
  dengan  stress  
  dingin dan upa-  
  ya mengeluar-
  kan kelebihan  
  CO2 dalam  
  tubuh.(Doenges
  2001).

- Faktor ini 
  memperberat
  ketidakmam puan  
   bayi untuk
   membersihkan  
   jalan nafas dari 
   kele bihan cai- 
   ran,mukusyang  
   mengakibatkan 
   RDS yang bia –
   sanya  dapat 
   membaik 6 jam
   kemudian.

- Memudahkan 
  drainase mucus 
  dan   mengupa-  
  yakan  kepate - 
  nan jalan  nafas  
  dapat  diperta- 
  hankan.  
 (Doenges,2001)




- Menghilangkan     
  ansietas orang 
   tua berkenaan
  dengan kondisi 
   bayi  mereka,  
   membantu
  orang tua untuk 
  memahami rasi 
  onal intervensi
  pada periode
  awal bayi baru 
  lahir. 

- Menjamin
  kebersihan
  jalan nafas.
  Regurgitasi
  mukus dihu-
  bungkan dengan
  episode gag
  yang sering
  terjadi dalam
  periode reakti
  fitas kedua     
  (2-6 jam sete-
  lah kelahiran)

- Sianosis peri-
  fer dihubung
  kan dengan 
  ketidakstabi-
  lan vasomo-
  tor hipoter
  mia. Sianosis
  memburuk
  menujukkan
  adanya penu-
  runan curah
  jantung.

- Hipotermia 
  dan hiperter-
  mia mening-
  katkan laju
  metabolik
  dan  konsum
  si oksigen,
  meningkat
  kan distress
  pernafasan,  
  penurunan
  suhu sampai
  35,9 °c.    
  Meningkat-
  kan konsum
  si oksigen se-
  banyak 10 %.
  Penghanga-
  tan yang
  terlalu cepat
  menimbulkan
  hipertermia
  yang mening-
  katkan hiper-
  termia yang  
  meningkat-
  kan konsumsi
  oksigen sam-
  pai 6 %.

- Asimetris da- 
  pat menunjuk-
  kan  pneumo-
  toraks berke-
  naan  dengan 
  tindakan resu-
  sitasi  sebelum- 
  nya.

- Murmur jan-
  tung semen-
  tara mungkin 
  ada pada di
  masa awal 
  bayi baru
  lahir karena
  struktur janin
  menetap atau  
  membuka
  ulang sebagai
  respon terha-
  dap hipoksia 
  dan menangis
  PDA sering
  ditandai 
  sianosis.  
  Foramen
  ovale secara
  normal menu
  tup pada /sam
  pai 2 jam sete
  lah kelahiran.
  Ketidakade-
  kuatan  per-
  fusi paru me-
  ningkatkan
  konstriksi ja-  
  lan nafas dan  
  penurunan, 
  pernafasan  
  (Apnoe).


- Memenuhi ke-  
   butuhan  oksi- 
   gen   dalam  
   tubuh.
  Penggunaan
  terapi  oksigen
  yang  tidak  di
  monitor  dapat
  mengakibatkan  
  toksisitas.
  Pengawasan se- 
  cara  transkutan  
  membantu  
  mencegah  kea-  
  daan   hipoksia  
  danmengevalu-  
  asi keefektifan
  terapi.

- Kadar HB ku- 
  rang dari 15  
  g/dl mungkin  
  karena kehila- 
  ngan darah he-  
  molisis, penuru  
  nan sel darah
  merah.
 (Doenges,2001)
Jam 13.42 WITA
- Mengamati lebih
  lanjut adanya per-
  nafasan cuping
  hidung, retraksi 
  dada, ronki.
* Terdapat tanda
   cuping hidung, 
   retraksi dada.
  


Jam 13.42 WITA
- Menghitung frek-
  wensi pernafasan.
 * Frekwensi  perna
    fasan: 64 x/m,
    apnoe masih ada
    selama 8 detik.









- Meninjau ulang
  faktor-faktor yang
  mempengaruhi
  timbulnya tanda-
  tanda  distress
  pernafasan saat
  bayi belum lahir
  dan dalam proses
  kelahiran.
* Bayi lahir dengan
   seksio sesaria, ibu
   diberi anastesi  
   umum pada saat
   bedah sesaria

- Mempertahankan       
   posisi tidur bayi  
  miring kiri dengan   
   gulungan kain 
   untuk menyokong
   punggung..
* Bayi tidur miring
   kiri dengan posisi
   minimal ekstensi
   dalam inkubator.

Jam 13.48 WITA
-Menjelaskan pada
 Ayah bayi tentang
  kodisi bayi masih
 memerlukan pera-
 watan intensif dan
 meminta persetu-
 juan tindakan me-
 dik untuk pemasa
 ngan IVFD dan
 pemberian obat-
 obatan.


Tidak dilakukan













-Menginspeksi war
  na kulit bayi 
  selama dalam pe-
  rawatan intensif.
 








-Mengukur tanda-
  tanda vital setiap
  2 jam dan meng -  
  inspeksi warna ku
  lit bayi
  * Jam: 15.00
     SB: 36,8°c
     Nadi:104x/m.
     Respirasi:60x/m
     Warna kulit:
     Mulai kemera-
     han.
  * Jam 17.00
     SB:36,5°c
     Nadi:140x/m
     Respirasi:64x/m














-Menginspeksi kesi
  metrisan gerakan 
 dada pada saat
  mengukur tanda-
  tanda vital.
  * Gerakan dada
      Simetris.

 Jam 17.00 WITA
-Mengauskultasi
  bunyi jantung.
  * Tidak ada mur-
      mur.





























Jam 13.45 WITA
-Mengatur aliran 
  Oksigen 1 liter/m

















-Belum dilakukan
Tgl 8/8-2006
Jam 18.42WITA

S  : -
O :    
    -Frekwensi       
     pernafasan:
     64 x /menit

   -Apnoe sela-
     ma 8 detik.

   -Ekstremitas
     atas dan
     daerah bi-  
     bir keme-  
     rahan.

   - pernafasan
     Cuping hi-
     dung .

   - Retraksi
     dada.

A : Setelah  
      diberi tin-   
     dakan kepe  
     rawatan
      selama 6   
      jam, Pola  
      nafas mu-  
      lai efektif.

P :- Lanjutkan
       Intervensi   
       yang ada.
     
     - Evaluasi  
       Lanjut    
       setelah 24  
       jam Pera - 
      wa tan.
      (Tanggal   
       9/8-2006)
    



































































































































































































8/8-
06
jam
13.45

5.

Resiko  
 Tinggi  
 terhadap 
 perubahan  
 nutrisi; ku   
 rang dari 
 kebutuhan 
 tubuh,
 dengan 
 faktor  
 resiko  
 meliputi :
 -Melemah-
   nya  ref-  
   leks men- 
   cari,meng-  
   isap dan  
   menelan  
   sekunder  
   akibat   
   stressor
   kelahiran
- Bayi rawat   
  terpisah   
  dengan ibu
- Keterba-
  tasan ma-  
  sukan oral.
Nutrisi sesuai kebutuhan tubuh dapat dipertahan- kan.
Kriteria hasil :
setelah diberi tin-
dakan keperawa-
tan 24 jam lahir
-Gula darah tidak
  kurang dari 45  
  mg% pada 24  
  jam kelahiran.

-Penurunan berat
 badan tidak ku-  
  rang dari 5 %  
  pada 24  jam  
 lahir.

-Bayi menunjuk-
  kan peningkatan
  refleks mencari,
  menghisap dan
  menelan secara
  bertahap.


A. Mandiri.
- Perhatikan Skor 
  Apgar,kondisi saat
  lahir,tipe / waktu
  pemberian obat
  dan suhu awal pa
  da penerimaan di
  ruang perawatan
  bayi.












- Turunkan stressor  
  fisik seperti stress
  dingin, pergerakan  
  fisik dan pemaja-
  nan berlebihan  
  pada pemancar
  panas.













- Timbang berat
  badan setiap hari.














- Observasi bayi ter
  hadap tremor, irit-
  tabilitas, takipnoe,
  diaforesis,sianosis
  pucat dan aktifitas
  kejang.





- Auskultasi bising
  usus, perhatikan
  adanya distensi
  abdomen, adanya  
  tangisan lemah
  dan perilaku roo-
  ting / menghisap.

- Lakukan pembe-
  rian makan awal 
  dengan 5-15ml air
  steril, kemudian
  dekstrose 5% dan
  air, atau sesuai
  prosedur rumah
  sakit, berlanjut
  pada formula
  untuk bayi yang
  makan melalui
  botol (apabila kon
  disi umum bayi
  mulai membaik ).


















- Pantau warna,kon
  sentrasi dan frek-
  wensi berkemih.
















- Observasi bayi
  terhadap adanya
  indikasi masalah
 dalam pemberian    
  makanan ( misal
  nya ; regurgitasi
  berwarna empedu,
  distensi abnormal,
  faeses abnormal,
  produksi mukus
  berlebihan, terse-
  dak atau menolak   
  makan ).

B. Kolaborasi
- Monitor kadar   
  gula darah 1 jam,
  24 jam sesuai
  prosedur yang
  berlaku di RSU
  Bethesda GMIM
  Tomohon.




- Berikan glukosa 
  dengan segera
  melalui oral atau 
  intravena dengan
  kecepatan 80-120
  ml/kgBB/hari.













- Monitor secara
  ketat intake output




- Hindari pemberi-
  an makanan per-
  oral terhadap bayi
  distress.

- Stresor kela -
  hiran dan
  stress dingin
  meninglatkan 
  laju metabo -
  lisme dan 
  dengan cepat
  menurunkan
  simpanan
  glukosa,
  kemungkinan 
 menggunakan
 sebanyak 200  
 kalori / kg /
 menit sebelum
 ke ruang pera-
 watan bayi. (Berhman,1999)


- Hipotermia 
  meningkat kan  
  konsumsi
  energi dan
  penggunaan
  simpanan
  lemak coklat
  yang tidak
  dapat diperba
  harui. Untuk
  setiap 1°c
  peningkatan
  suhu tubuh,  
  kebutuhan
  metabolisme
  dan cairan
  meningkat
  kira-kira 10% 
  (Doenges,2001)

- Untuk menen
  tukan kebutu-
  han kalori dan  
  cairan sesuai  
  dengan berat  
  badan  dasar, 
  yang secara 
  normal
  menurun se-
  banyak < 5%
  pada 24 jam
  kelahiran ka-
  rena  keterba-
  tasan masu-
  kan oral.
(Berhman,1999).

- Menandakan  
  hipoglikemia
  yaitu kadar
  gula darah
  kurang dari
  45 mg/dl.
(Holloway,2003)




- Indikator me-
  nunjukkan ne
  onatus lapar /  
  siap untuk
  makan.



- Pemberian
  makan awal
  diruang pera-
  watan bayi  
  adalah untuk
  mengkaji ke-
  efektifan
  menghisap,
  menelan dan
  kepatenan
  esophagus,  
  bila terjadi
  aspirasi air  
  steril mudah  
  diabsorpsi 
  oleh jaringan
  paru.
  Pemberian
  makan awal
  membantu  
  memenuhi
  kebutuhan
  kalori dan cai
  ran, khusus-
  nya pada bayi
  yang laju me-
  tabolismenya
 100-200kalori   
 /kg/BB/24jam
( Bobak,2004).


- Kebutuhan
  cairan harian
  adalah antara
  140-160/kgBB
  /24jam. 
  Kehilangan
  cairan dan
  kurangnya
  masukan oral
  dengan cepat
  menghabis-
  kan cairan
  ekstraseluler
  dan mengaki
  batkan penu-
  runan halu-
  aran urine.
(Doenges,2001)

- Masalah-masa
  lah ini dapat  
  mengindikasi-
  kan obstruksi
  usus atau fistu
  la trakeoeso
  fangeal.
(Doenges,2001)








- Pengukuran
  glukosa darah
  adalah untuk
  memantau ada
  nya hipoglike
  mia ( gula da-
  rah <45mg/dl)  
  yang membu-
  tuhkan inter-
  vensi lanjut.

- Bayi dengan
  kondisi asfik-
  sia memerlu-
  kan suplemen
  glukosa akibat
  kelelahan dan
  hipotermia.
(Berhman,1999)












- Mengetahui
  balans cairan
  dan kebutuhan
  intervensi
  selanjutnya.

- Menurunkan
  atau menghin-
  dari  bahaya
  aspirasi akibat
  kelemahan ref-
  leks menelan.
(Holloway,2003)

Jam 13.42 WITA
- Mengevaluasi  
  Skor Apgar, kondi
  si saat bayi lahir,
  tipe, suhu awal.
  * Bayi riwayat 
     asfiksia dengan
     Skor Apgar 3-5
     pada 5 menit     
     pertama, kelahi-   
     ransuhu awal  
     35,2°c saat pene
     rimaan  di ruang 
     perawatan bayi.






  Jam 13.45 WITA
- Menurunkan
  stressor fisik seper
  ti stres dingin dan
  pemajanan berlebi
  han pada pemancar
  panas segera sete-
  lah penerimaan di  
  ruang perawatan
  intensif.
* Bayi dalam pera-
   watan incubator/
   pemantauan
   intensif.







-Belum dilakukan.
    














- Mengobservasi
  ketat F.T Bayi
  terhadap tremor,
  iritabilitas, takip-
  noe, disforesis,
  sianosis,pucat dan
  aktifitas kejang
  selama dalam pe-
  rawatan.

Jam 13.45 WITA.
- Mengauskultasi
  bising usus dan
  memperhatikan
  adanya distensi
  abdomen, meng-
  amati tangisan
  bayi.

-Belum dilakukan






























Jam 13.47 WITA
- Memonitor warna
  konsentrasi dan
  frekwensi berke-
  mih.
* F.T Bayi Bak 1 
   jam setelah lahir,
   warna kuning,    
   volume 1cc.

     









- Memantau bayi
  terhadap adanya
  regurgitasi ber-
  warna empedu,
  distensi abdomen,
  faeses abnormal,
  produksi mukus
  berlebihan, terse-
  dak atau menolak
  makan selama
  dalam perawatan
  intensif kamar
  bayi.


- Memeriksa kadar
  gula darah 1jam,3
   jam  lahir.
   *  jam13.42  :63 
       Mg%
   *  jam 15.42 :72
       mg/dl.



Jam 13.45 WITA
- Melakukan kola-
  borasi medik de-
  ngan Dr.Debby
  Rumbayan, SpA
  melalui telepon.
* Advis : pasang
  IVFD Dextrose
  5% + Bicnat 7 te-
   tes/menit micro-  
   drips.
Jam 13.50 WITA
- Memasang IVFD
  pada vena di leng-   
  an kiri mengguna-  
  kan teknik desin-  
  feksi/Aseptik.
  * IVFD terpasang
     baik.

- Memantau secara
  ketat intake output
  selama bayi dalam  
  perawatan intensif


- Melaksanakan
  prosedur puasa
  peroral pada bayi.








Tgl 08/08- 2006 , Jam 18.42 WITA
S :   -
O :
   - Gula darah  
     3 jam  lahir
     74 mg %

   - Bayi mulai  
     menunjuk -    
     kan adanya  
     refleks    
     mencari,    
     mengisap
     dan mene-
     lan namun
     belum  
     maksimal.

A : Setelah di-
      berikan
     tindakan ke
      perawatan  
      6 jam
      Nutrisi  
      sesuai
      kebutuhan
      tubuh mu-
      lai dapat
      dipertahan
      kan.
   
     Masih ada  
     risiko ter-  
     hadap peru  
     bahan nutri  
     si; kurang
     dari kebu-  
     tuhan             
     tubuh

P: -Lanjutkan
      intervensi
      yang  ada.
   
     -Evaluasi  
      lan jutan   
      setelah
      Perawatan   
      24 Jam  
      lahir  
     (Tanggal  
     9/8- 2006)
   































































































































































































8/8-
06
jam
13.45

6.


Resiko         terhadap  
 infeksi  
 Neonatus  
 dengan  
 faktor re-  
 siko meli-  
 puti :
 -Belum   
  matang-  
  nya sistem  
  kekebalan
  tubuh   
  terhadap
  infeksi  
  pada neo-  
  natus.

- Adanya  
  jaringan
  terbuka  
  yangbelum  
  sembuh    
  pada bekas
  pemotong-  
  an tali
  pusat.

 Infeksi Neonatus
 tidak terjadi .
 Kriteria hasil :
 Setelah diberikan  
  tindakan
 keperawatan
 24 jam lahir
- Tidak ada tanda-
  tanda infeksi lo-
  kal dan sistemik.
- Tali pusat me-  
  nunjukkan  
  pemulihan
  tepat waktu
  secara bertahap.

- Tanda-tanda  
   vital Sb:36,5-  
   37°c. Nadi:120- 
   160x/menit
   Resp:30-60   
   x/menit.

A. Mandiri
- Sikat dan cuci
  tangan dengan
  bersih sebelum
  memasuki ruang
  perawatan, setelah
  kontak dengan ma
  terial terkontami-
  nasi dan setelah/
  setiap memegang
  bayi.

- Batasi kontak  
  dengan bayi.











- Inspeksi kulit se-
  tiap hari terhadap 
  ruam atau kerusa-
  kan integritas  
  kulit.













- Kaji tali pusat dan
  area kulit pada da-  
  sar tali pusat seti-  
  ap hari dari ada -  
  nya kemerahan  
  bau atau rabas.
  Fasilitasi  penge-
  ringan melalui pe-  
  majanan pada uda  
  ra dengan melipat  
  popok kebawah  
  dan kemeja keatas
  puntung tali pusat

B.Kolaborasi
- Pemberian Anti-
   biotika sesuai in-
   dikasi.




















.


- Mencuci
  tangan yang
  benar adalah
  faktor tunggal
  yang paling
  penting dalam
  melindungi
  bayi baru lahir
  dari infeksi.


- Membantu     
 mencegah kon
 taminasi silang
 terhadap bayi 
 melalui kontak
 langsung atau
 infeksi droplet.
(Doenges,2001)





- Kulit adalah
  barier imuni-
  tas non spesi-
  fik yang men-
  cegah invasi
  pathogen. Ba-  
  han kimia pada  
  produk perawa- 
  tan kulit yang  
  digunakan da -  
  pat membuat  
  kulit cenderung  
  mengalami  
  ruam atau kerusakan
(Doenges,2001)
 

- Meningkatkan
  Pengeringan
  dan meningkat
  kan percepatan  
  penyembuhan  
  luka dan meng  
  hilangkan me- 
  dia lembab un-
  tuk pertumbu-  
  han bakteri.





-Mencegah   
 terjadinya infeksi
  neonatus.
  Pada neonatus
  System imun  
  yang terbentuk
  belum sempur- 
  na.Bayi yang me
 ngalami distress
 saat lahir sangat
 rentan terhadap
 infeksi.


-Melaksanakan pro
  sedur pencucian
  tangan sebelum
  melakukan kontak
  dan setelah meme-
  gang bayi dan se-
  tiap selesai kontak
  dengan materi
  terkontaminasi.

 Jam 13.45 WITA
- Membatasi kontak
  dengan bayi dan  
  membatasi jumlah
  pengunjung hanya  
  ayah bayi yang bo
  leh membesuk pa
  da waktu tertentu
  sesuai dengan
  Prosedur RSU
  Bethesda GMIM
  Tomohon.
* Kontak dibatasi.

- Menginspeksi
  kulit bayi setiap
  hari  dan membata
  si penggunaan
  produk perawatan
  kulit yang tidak
  sesuai dengan
  kulit bayi.
* Tidak ada ruam
  atau kerusakan
  integritas kulit.






 Jam:18.42 WITA
- Menginspeksi dan
  mencium bau tali
  pusat .
 * Tali pusat mulai
    mengerut 6 jam
    setelah lahir, ma-  
    sih lembab,
    tidak ada perda-  
    rahan,nanah dan  
    tanda-tanda  ra - 
    dang lokal.



Jam 12.45WITA
-Berkolaborasi de-
  ngan dokter D.R,
  SP.A untuk pem-
  berian antibiotik
  Profilaksis.
 *Advis:
   -inj.Salticin 2x10
     Mg/ I.V
   -Inj.Cefotaxim
     3x100 mg/ I.V

Jam 16.00 WITA
-Penatalaksanaan
 Inj.salticin 10 mg/
 Intravena melalui
 Selang infuse.

Jam 17.00WITA
-Penatalaksanaan
 Inj. Cefotaxim 100
 Mg/ Intravena me- 
 lalui selang infus.


Tgl 8/8-2006
Jam 20.00
WITA
S :  -
O:-Tali pusat
      mulai me-
      ngerut,  
      masih  
      basah,
      tidak ada
      perdara-
      han, nanah 
      serta tanda
      tanda
      radang
      lokal,
      tidak bau.
   - Sb:36,8°c.
   - N:140 x/m.
   - R:64x/m.

A:Bayi tidak
    menunjuk-
    kan adanya
    tanda-tanda   
    infeksi
    neonatus
    pada 6 jam
    pertama  
    kelahiran.

   Masih risiko    
   terhadap
    infesi

P :Lanjutkan
     intervensi
     yang ada.

     Evaluasi
     24 Jam   
     kelahiran  
    ( 9/8- 2006)





















Tgl/jm
  no.

     DATA

DIAGNOSA KEPERAWA -TAN




PERENCANAAN
KEPERAWATAN



IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

EVALUASI



TUJUAN
INTERVENSI
RASIONAL


9/8
06.
jam
12.
42


4.

















































































































































































-  Frekwensi  Per-  
nafasan 64x/m  
disertai periode    
apnoe selama 8  
detik.

- Adanya pernafa-
san cuping  
hidung.

-Retraksi dada
   Pola nafas    
   tidak  efektif   
   berhubung-
   an dengan    
   kelemahan   
   otot-otot   
   pernafasan   
   sekunder   
   akibat efek   
   narkotik

 Pola Nafas efektif
 Kriteria hasil:  
 setelah diberi tin- 
 keperawatan 6 
 jam.
-Frekwensi perna-
  fasan 30-60 x/m.

- Tidak ada apnoe.

- Tidak ada perna-
   fasan cuping
   hidung.

- Tidak ada Retrak
   si dada.
A. Mandiri
- Monitor adanya 
  pernafasan cuping 
  hidung, retraksi
  dada,mendengkur,  
  ronki.







- Kaji lebih lanjut
  frekwensi pernafa
  san; perhatikan  
  adanya takipnoe   
  (frekwensi lebih  
  dari 60x / menit).  
  Evaluasi pernafa - 
  san setiap 30menit  
  atau  setiap 1 jam.







- Posisikan bayi
  miring dengan
  gulungan handuk
  untuk menyokong
  punggung.








- Informasikan
  kepada orang tua
  tentang kebutu-
  han kebutuhan 
  neonatus segera
  dan perawatan
  yang diberikan.






- Hisap nasofarings 
  sesuai kebutuhan.
  perhatikan warna,
  jumlah & karakter
  mukus yang
  dimuntahkan.










- Monitor bayi  ter-   
   hadap adanya sia-  
   nosis .
 









- Pantau tanda- 
  tanda hipotermia   
  dan hipertermia.



























- Perhatikan 
  kesimetrisan
  gerakan dada.





- Auskultasi bunyi
  jantung  perhati-
  kan adanya
  murmur.



























B. Kolaborasi
- Beri suplemen ok-
  sigen sesuai indi-
  kasi kondisi bayi
  baru lahir. Catat 
  penggunaan dan  
  hasil dari  penga-  
  wasan dan duku - 
   ngan.











- Kaji kadar HB
  dalam darah .

- Tanda-tanda
  ini merupakan  
  adanya distress  
  pernafasan.(su-
  riadi,2001).







- Bayi  menjadi  
  takipnoe  oleh 
  respons  terha-
  dap  peningka-
  tan kebutuhan 
  oksigen  yang 
  dihubungkan  
  dengan  stress  
  dingin dan upa-  
  ya mengeluar-
  kan kelebihan  
  CO2 dalam  
  tubuh.(Doenges
  2001).


- Memudahkan 
  drainase mucus 
  dan   mengupa-  
  yakan  kepate - 
  nan jalan  nafas  
  dapat  diperta- 
  hankan.  
 (Doenges,2001)





- Menghilangkan     
  ansietas orang 
   tua berkenaan
  dengan kondisi 
   bayi  mereka,  
   membantu 
  orang tua untuk 
  memahami rasi 
  onal intervensi
  pada periode
  awal bayi baru 
  lahir. 

- Menjamin
  kebersihan
  jalan nafas.
  Regurgitasi
  mukus dihu-
  bungkan  
  dengan
  episode gag
  yang sering
  terjadi dalam
  periode reakti
  fitas kedua     
  (2-6 jam sete-
  lah kelahiran)


- Sianosis peri-
  fer dihubung
  kan dengan 
  ketidakstabi-
  lan vasomo-
  tor hipotermia.   
  Sianosis mem- 
  buruk menujuk 
  kan adanya    
  penurunan   
  curah jantung.


- Hipotermia 
  dan hiperter-
  mia mening-
  katkan laju
  metabolik
  dan  konsum
  si oksigen,
  meningkat
  kan distress
  pernafasan,  
  penurunan
  suhu sampai
  35,9 °c.    
  Meningkat-
  kan konsum
  si oksigen se-
  banyak 10 %.
  Penghanga-
  tan yang
  terlalu cepat
  menimbulkan
  hipertermia
  yang mening-
  katkan hiper-
  termia yang  
  meningkat-
  kan konsumsi
  oksigen sam-
  pai 6 %.

- Asimetris da- 
  pat menunjuk-






- Murmur jan-
  tung semen-
  tara mungkin 
  ada pada di
  masa awal 
  bayi baru
  lahir karena
  struktur janin
  menetap atau  
  membuka
  ulang sebagai
  respon terha-
  dap hipoksia 
  dan menangis
  PDA sering
  ditandai siano-  
  sis. Foramen 
  ovale secara 
  normal menu- 
  tup pada 2 jam  
  setelah  kela-  
  hiran.Ketidak-
  adekuatan   
  perfusi paru  
  meningkatkan   
  konstriksi ja-  
  lan nafas dan  
  penurunan, per 
   nafasan
  (Apnoe).


- Memenuhi ke-  
   butuhan  oksi- 
   gen   dalam  
   tubuh.
  Penggunaan
  terapi  oksigen
  yang  tidak  di
  monitor  dapat
  mengakibatkan  
  toksisitas.
  Pengawasan se- 
  cara  transkutan  
  membantu  
  mencegah  kea-  
  daan   hipoksia  
  danmengevalu-  
  asi keefektifan
  terapi.

- Kadar HB ku- 
  rang dari 15  
  g/dl mungkin  
  karena kehila-  
  ngan darah he-  
  molisis, penuru  
  nan sel darah
  merah.
 (Doenges,2001)
Jam 12.42 WITA
- Mengamati lebih
  lanjut adanya per-
  nafasan cuping
  hidung, retraksi 
  dada, ronki.
  *Pernafasan cu -
     ping hidung, 
  



 Jam 12.42 WITA
- Menghitung frek-
  wensi pernafasan.
 * Frekwensi  perna
    fasan: 64 x/m,
    apnoe tidak ada,
    pernafasan cu-
    ping hidung  
    masih ada ,retrak
    si dada masih
    ada.






- Mempertahankan
   posisi tidur bayi  
   miring dengan   
   gulungan kain 
  untuk menyokong
  punggung..
* Bayi tidur miring
   kanan dengan   
   posisi minimal   
   ekstensi dalam   
   inkubator.

Jam 13.00 WITA
-Menjelaskan pada
 Ayah bayi tentang
 kodisi bayi masih
  memerlukan pera-
  watan intensif dan
  pemberian obat-
  obatan.
  * Ayah bayi me-
     gerti dan mene-
     rima.



-Tidak dilakukan














 Jam 13.50 WITA
-Menginspeksi war
  na kulit bayi 
  selama dalam pe-
  rawatan intensif.
  *tidak ada cianotis








-Mengukur tanda-
  tanda vital setiap
  2 jam dan meng -  
  inspeksi warna ku
  lit bayi
  * Jam: 15.00
     SB: 37°c
     Nadi:148x/m.
     Respirasi:68x/m
     Warna kulit:
     Mulai kemera-
     han.

  * Jam 17.00
     SB:36,5°c
     Nadi:140x/m
     Respirasi:64x/m













-Menginspeksi kesi
  metrisan gerakan 
 dada pada saat
  mengukur tanda-
  tanda vital.
  * Gerakan dada
      Simetris.

-Mengauskultasi
 Adanya murmur
 Saat menghitung
 Denyut jantung
 * Tidak ada



























Jam 12.45 WITA
- Mengatur aliran 
  Oksigen ½ liter/m
















 -Tidak dilakukan
Tgl 9/8-2006 Jam18.00WITA

S  : -
O :
-Frekwensi         
  pernafa - 
  san:64 x /   
  menit
-Apnoe   
  tidak ada.
 -Pernafa -  
  san Cu -  
  ping hi-       
  dung ma-  
  sih  ada.

A:
  Setelah     
  diberi tin-  
  dakan  ke  
  perawa- 
  tan sela - 
  ma 6 jam
  keefek-
  tifan pola   
  nafas  
  sudah
 dapat       
 diting-      
 katkan  
 ditandai 
 dengan
 tidak ada 
 apnea.

P : Lanjutkan
Intervensi   
yang ada.
      Evaluasi  
akhir sete-
lah 48 jam
Kelahiran (Tanggal  
10/8-2006) 
    
9/8
06
jam
12.
42


5.



   Resiko   
   Tinggi   
   terhadap   
   perubahan    
   nutrisi;  
   kurang dari   
   kebutuhan   
   tubuh, de- 
   ngan faktor  
   resiko meli-  
   puti :
   - refleks  
     mencari, 
     menghisap   
     dan mene-  
     lan belum
     maksimal
     sekunder
     akibat              
     stressor
     kelahiran
  - Bayi rawat   
     terpisah   
     dengan ibu.
  -  Keterbata-
     san masu-  
     kan oral.

Nutrisi sesuai kebutuhan tubuh
sudah dapat diper- tahankan.
Kriteria hasil :
Setelah diberikan tindakan kepera –watan 24 jam kelahiran,
-Gula darah tidak
  kurang dari 45  
  mg%pada 24 jam
  kelahiran.

-Penurunan berat
  badan tidak  
  kurang dari 5 %   
  pada 24
  jam lahir.
- Bayi menunjuk-
  kan peningkatan
  refleks mencari,
  menghisap dan
  menelan secara
  bertahap.


A. Mandiri.
- Turunkan stressor  
   fisik seperti stress
  dingin, pergerakan  
  fisik dan pemaja-
  nan berlebihan  
  pada pemancar
  panas.















- Timbang berat
   badan setiap hari.













- Observasi bayi ter
  hadap tremor, irit-
  tabilitas, takipnoe,
  diaforesis,sianosis
  pucat dan aktifitas
  kejang.



- Auskultasi bising
  usus, perhatikan
  adanya distensi
  abdomen, adanya  
  tangisan lemah
  dan perilaku roo-
  ting / menghisap.




- Lakukan pembe-
  rian makan awal 
  dengan 5-15ml air
  steril, kemudian
  dekstrose 5% dan
  air, atau sesuai
  prosedur rumah
  sakit, berlanjut
  pada formula
  untuk bayi yang
  makan melalui
  botol (apabila kon
  disi umum bayi
  mulai membaik ).

















- Pantau warna,kon
  sentrasi dan frek-
  wensi berkemih.
















- Observasi bayi
  terhadap adanya
  indikasi masalah
 dalam pemberian    
  makanan ( misal
  nya ; regurgitasi
  berwarna empedu,
  distensi abnormal,
  faeses abnormal,
  produksi mukus
  berlebihan, terse-
  dak atau menolak   
  makan ).

B. Kolaborasi
- Monitor kadar   
  gula darah 1 jam,
  24 jam sesuai
  prosedur yang
  berlaku di RSU
  Bethesda GMIM
  Tomohon.





- Pertahankan  glu-
  kosa  melalui 
  intravena dengan
  kecepatan 80-120
  ml/kgBB/hari.



























- Monitor secara
  ketat intake output





-Perhatikan pembe-  
  rian  makanan  
  per oral terhadap
  bayi distress.

- Hipotermia 
  meningkatkan   
  konsumsi
  energi dan
  penggunaan
  simpanan
  lemak coklat
  yang tidak
  dapat diperba
  harui. Untuk
  setiap 1°c
  peningkatan
  suhu tubuh,  
  kebutuhan
  metabolisme
  dan cairan
  meningkat
  kira-kira 10% 
 (Doenges,2001)



- Untuk menen
  tukan kebutu-
  han kalori dan   
   cairan sesuai   
  dengan berat   
  badan dasar,   
   yang secara   
  normal menu 
  run sebanyak
  < 5% pada 24
  jam kelahiran   
  karena keterba-
  tasan masu-
  kan oral.
(Berhman,1999).
- Menandakan  
  hipoglikemia
  yaitu kadar
  gula darah
  kurang dari
  45 mg/dl.
(Holloway,2003)


- Indikator me-
  nunjukkan ne
  onatus lapar /  
  siap untuk
  makan.






- Pemberian
  makan awal
  diruang pera-
  watan bayi  
  adalah untuk
  mengkaji ke-
  efektifan
  menghisap,
  menelan dan
  kepatenan
  esophagus,  
  bila terjadi
  aspirasi air  
  steril mudah  
  diabsorpsi 
  oleh jaringan
  paru.Pemberian
  makan awal
  membantu  
  memenuhi
  kebutuhan
  kalori dan cai
  ran, khusus-
  nya pada bayi
  yang laju me-
  tabolismenya
 100-200kalori  
 /kg/BB/24jam
( Bobak,2004).


- Kebutuhan
  cairan harian
  adalah antara
  140-160/kgBB
  /24jam. 
  Kehilangan
  cairan dan
  kurangnya
  masukan oral
  dengan cepat
  menghabis-
  kan cairan
  ekstraseluler
  dan mengaki
  batkan penu-
  runan halu-
  aran urine.
(Doenges,2001)

- Masalah-masa
  lah ini dapat  
  mengindikasi-
  kan obstruksi
  usus atau fistu
  la trakeoeso
  fangeal.
(Doenges,2001)







- Pengukuran
  glukosa darah
  adalah untuk
  memantau ada
  nya hipoglike
  mia ( gula da-
  rah <45mg/dl)  
  yang membu-
  tuhkan inter-
  vensi lanjut.


- Bayi dengan
  kondisi asfik-
  sia memerlu-
  kan suplemen
  glukosa akibat
  kelelahan dan
  hipotermia.
(Berhman,1999)
























- Mengetahui
  balans cairan
  dan kebutuhan
  intervensi
  selanjutnya.


- Menurunkan
  atau menghin-
  dari  bahaya
  aspirasi akibat
  kelemahan ref-
  leks menelan.
(Holloway,2003)
Jam 13.45 WITA
- Menurunkan
  stressor fisik seper
  ti stres dingin dan
  pemajanan berlebi
   han pada peman - 
  carpanas segera   
  setelah penerima-   
  an di ruang pera-  
  watan intensif.
 * Bayi dalam pera-
    watan incubator/
    pemantauan
    intensif.







         
Jam 06.00 WITA
-Menimbang berat
 Badan bayi.
 *BB:2680 gram.












- Mengobservasi
  ketat F.T Bayi
  terhadap tremor,
  iritabilitas, takip-
  noe, disforesis,
  sianosis,pucat dan
  aktifitas kejang.

Jam 13.45 WITA.
- Mengauskultasi
  bising usus dan
  memperhatikan
  adanya distensi
  abdomen, meng-
  amati tangisan
  bayi.
  *Bising usus ada,
    Tidak ada disten-
    si
 Jam:12.00 WITA
-Memberikan susu
  Ibu lain melalui
  Pipet sedikit-sedi
  kit ke mulut bayi
  *Bayi mulai aktif
    Mengisap dan
    Menelan.























Jam 15.00 WITA
- Memonitor warna
  konsentrasi dan
  frekwensi berke-
  mih.
* F.T Bayi Bak  
   warna kuning,    
   volume 2 cc.

     










- Memantau bayi
  terhadap adanya
  regurgitasi ber-
  warna empedu,
  distensi abdomen,
  faeses abnormal,
  produksi mukus
  berlebihan, terse-
  dak atau menolak
  makan selama
  dalam perawatan
  intensif kamar
  bayi.

  Jam 12.42 WITA
- Memeriksa kadar
  gula darah
   * 24 jam lahir :68 
       Mg%
  






Jam 11.00 WITA
- Melakukan kola-
  borasi medik de-
  ngan Dr.Debby
  Rumbayan, SpA 
* Advis :
  IVFD Dextrose
  5% + Bicnat 7 te-
   tes/menit micro-  
   drips teruskan,
   boleh minum se-
   dikit-sedikit.

- Mengontrol IVFD
  pada vena di leng-   
  an kiri dan tetesan
  cairan
   * IVFD terpasang
     Baik,tetesan 7
     Tetes/menit.

Jam 16.00 WITA
-Penatalaksanaan
 Inj.salticin 10 mg/
 Intravena melalui
 Selang infuse.

Jam 17.00 WITA
-Penatalaksanaan
 Inj. Cefotaxim 100
 Mg/ Intravena me- 
 lalui selang infuse.

- Memantau secara
  ketat intake output
  selama bayi dalam  
  perawatan intensif


 Jam 12.00 WITA
- Memberikan mi-        
  num peroral pada  
  bayi 2 cc melalui
  pipet secara hati-
  hati.

Tgl 09/08-2006
Jam 18.00 WITA
S :   -
O :
-Guladarah  
  24 jam   
  lahir:68   
  mg %  
-Bayi
  mulai        
  aktif
  mengisap   
 dan mene-
 lan.
- BB:2680   
   gram

A :
Setelah di-
berikan tindakan keperawa-
tan 24jam
kelahiran nutrisi sesu
ai kebutu-
han tubuh dapat diper tahankan ditandai
dengan  
BBturun< 5%

Masih ada risiko terhadap
 perubahan    
 nutrisi;  
 kurang
dari kebu-
tuhan  tubuh

P: Lanjutkan
intervensi
yang  ada.
     Evaluasi   
Akhir sete-
lah Perawa
tan 48 Jam lahir  
(Tanggal 10/8-2006) 
   

9/8
06
jam
12.42

6.


   Risiko terha-   
   dap infeksi    
   Neonatus   
   dengan      
   faktor resiko     
   meliputi :
   -Belum   
     matangnya
     sistem   
     kekebalan
     tubuh ter-  
     hadap in-   
     feksi pada   
     neonatus.

  - Adanya   
    jaringan
    terbuka   
    yang belum   
   sembuh pada
   pemotongan   
   tali pusat.

Infeksi Neonatus tidak terjadi
Kriteria hasil :
setelah tindakan keperawatan 48 jam lahir
- Tidak ada tanda-
  tanda infeksi lo-
  kal dan sistemik.

-Tali pusat menun
 jukkan pemulihan
 tepat waktu seca-  
 ra bertahap.

-Tanda-tanda vital
  Sb:36,5-37°c.
  Nadi:120-160x/   
  menit.
  Resp:30-60 x/
  menit.
A. Mandiri
- Sikat dan cuci
  tangan dengan
  bersih sebelum
  memasuki ruang
  perawatan, setelah
  kontak dengan ma
  terial terkontami-
  nasi dan setelah/
  setiap memegang
  bayi.


- Batasi kontak  
  dengan bayi.











- Inspeksi kulit se-
  tiap hari terhadap 
  ruam atau kerusa-
  kan integritas  
  kulit.













- Kaji tali pusat dan
  area kulit pada da-  
  sar tali pusat seti-  
  ap hari dari ada -  
  nya kemerahan  
  bau atau rabas.
  Fasilitasi  penge-
  ringan melalui pe-  
  majanan pada uda  
  ra dengan melipat  
  popok kebawah  
  dan kemeja keatas
  puntung tali pusat.

- Mencuci
  tangan yang
  benar adalah
  faktor tunggal
  yang paling
  penting dalam
  melindungi
  bayi baru lahir
  dari infeksi.



- Membantu     
 mencegah kon
 taminasi silang
 terhadap bayi 
 melalui kontak
 langsung atau
 infeksi droplet.
(Doenges,2001)





- Kulit adalah
  barier imuni-
  tas non spesi-
  fik yang men-
  cegah invasi
  pathogen. Ba-  
  han kimia pada  
  produk perawa- 
  tan kulit yang  
  digunakan da -  
  pat membuat  
  kulit
  cenderung me-
  ngalami ruam
 atau kerusakan
(Doenges,2001)
 

- Meningkatkan
  Pengeringan
  dan meningkat
  kan percepatan  
  penyembuhan  
  luka dan meng  
  hilangkan me- 
  dia lembab un-
  tuk pertumbu-  
  han bakteri.

- Melaksanakan pro
  sedur pencucian
  tangan sebelum
  melakukan kontak
  dan setelah meme-
  gang bayi dan se-
  tiap selesai kontak
  dengan materi
  terkontaminasi.


 Jam 12.45 WITA
- Membatasi kontak
  dengan bayi dan  
  membatasi jumlah
  pengunjung hanya  
  ayah bayi yang bo
  leh membesuk pa
  da waktu tertentu
  sesuai dengan
  Prosedur RSU
  Bethesda GMIM
  Tomohon.
* Kontak dibatasi.

- Menginspeksi
  kulit bayi setiap
  hari  dan membata
  si penggunaan
  produk perawatan
  kulit yang tidak
  sesuai dengan
  kulit bayi.
* Tidak ada ruam
  atau kerusakan
  integritas kulit.






 Jam:11.00 WITA
- Menginspeksi dan
  mencium bau tali
  pusat .
 * Tali pusat mulai
    mengerut , ma-  
    sih lembab,
    tidak ada perda-  
    rahan,nanah dan  
    tanda-tanda  ra - 
    dang lokal.

Tgl 09/08-2006
Jam 18.00 WITA
S :  -
O:
-Tali pusat
  mulai  
  mengerut,   
  masih  
  basah,  
  tidak ada   
  perdara-
  han,nanah 
  serta 
  tanda-
  tanda
  radang
  lokal,   
  tidakbau.
-Sb:36,8 
   °c.
- N:1x/m.
- R:54x/m.

A:
Bayi tidak
menunjuk-kan adanya tanda-tan- da infeksi
neonatus pada 24 jam perta -ma kelahi- ran.

Masih risi- ko terha -dap infeksi
neonatus

P : Lanjutkan
 intervensi
 yang ada.

 Evaluasi   
 48 Jam   
 kelahiran (18/8-2006)












Tgl
&
Jam
no.

DATA

DIAGNOSA KEPERAWATAN

     PERENCANAAN

KEPERAWATAN

RASIONAL

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

EVALU-
ASI



TUJUAN
INTERVENSI



10/
8-06
jam
12.
42

4.











 

- Frekwensi     
Pernafasan 
64x/m  
- Adanya       
 pernafasan   
cuping  
 hidung.
- Retraksi  
 dada masih 
 ada.



Pola nafas tidak
efektif berhubung-
an dengan kelema-
han otot-otot perna-
fasan sekunder akibat efek narkotik
Pola Nafas efektif
Kriteria Hasil:
setelah diberi perawatan  jam
- Frekwensi perna-
  fasan 30-60 x/m.

- Tidak ada apnoe.

- Tidak ada perna-
   fasan cuping
   hidung.

- Ekstremitas dan
  daerah bibir 
  kemerahan.
A. Mandiri
- Monitor adanya 
  pernafasan cuping 
  hidung, retraksi
  dada,mendengkur,  
  ronki.






- Kaji lebih lanjut
  frekwensi pernafa
  san; perhatikan  
  adanya takipnoe   
  (frekwensi lebih  
  dari 60x / menit).  
  Evaluasi pernafa - 
  san setiap 30menit  
  atau  setiap 1 jam.






- Posisikan bayi
  miring dengan
  gulungan handuk
  untuk menyokong
  punggung.








- Informasikan
  kepada orang tua
  tentang kebutu-
  han kebutuhan 
  neonatus segera
  dan perawatan
  yang diberikan.











- Pantau tanda- 
  tanda hipotermia   
  dan hipertermia.



























- Perhatikan 
  kesimetrisan
  gerakan dada.

- Tanda-tanda
  ini merupakan  
  adanya distress  
  pernafasan.(su-
  riadi,2001).






- Bayi  menjadi  
  takpnoe  oleh 
  respons  terha-
  dap  peningka-
  tan kebutuhan 
  oksigen  yang 
  dihubungkan  
  dengan  stress  
  dingin dan upa-  
  ya mengeluar-
  kan kelebihan  
  CO2 dalam  
  tubuh.(Doenges
  2001).

- Memudahkan 
  drainase mucus 
  dan   mengupa-  
  yakan  kepate - 
  nan jalan  nafas  
  dapat  diperta- 
  hankan.  
 (Doenges,2001)





- Menghilangkan     
  ansietas orang 
   tua berkenaan
  dengan kondisi 
   bayi  mereka,  
   membantu 
  orang tua untuk 
  memahami rasi 
  onal intervensi
  pada periode
  awal bayi baru 
  lahir. 






- Hipotermia 
  dan hiperter-
  mia mening-
  katkan laju
  metabolik
  dan  konsum
  si oksigen,
  meningkat
  kan distress
  pernafasan,  
  penurunan
  suhu sampai
  35,9 °c.    
  Meningkat-
  kan konsum
  si oksigen se-
  banyak 10 %.
  Penghanga-
  tan yang
  terlalu cepat
  menimbulkan
  hipertermia
  yang mening-
  katkan hiper-
  termia yang  
  meningkat-
  kan konsumsi
  oksigen sam-
  pai 6 %.

- Asimetris da- 
  pat menunjuk-
  kan  pneumo-
  toraks berke-
  naan  dengan 
  tindakan resu-
  sitasi  sebelum- 
  nya.
(Mose,1999)
Jam 13.42 WITA
- Mengamati lebih
  lanjut adanya per-
  nafasan cuping
  hidung, retraksi 
  dada, ronki.
* Terdapat tanda
   cuping hidung, 
   retraksi dada
 


- Menghitung frek-
  wensi pernafasan.
 * Frekwensi  perna
    fasan: 40 x/m,
    Retraksi dada  
    dan pernafasan
    cuping hidung  
    tidak  ada
   






- Mempertahankan                                    posisi  tidur bayi      miring
  dengan
   gulungan kain 
  untuk menyokong
  punggung..
* Bayi tidur miring
   kiri dengan posisi
   minimal ekstensi
   dalam inkubator.

Jam 14.00 WITA
-Menjelaskan pada
  keluarga bayi   
 tentang kodisi bayi
  yang semakin 
  membaik dan  
  mengijinkan ibu 
  membesuk bayi  
  dan mengatakan
  bahwa masih
  memerlukan pera-
  watan intensif dan
 
 mejelaskan tentang
 persiapan pemberi-
 an ASI setelah kon
 disi bayi semakin
 membaik

-Mengukur tanda-
  tanda vital setiap
  2 jam dan meng -  
  inspeksi warna ku
  lit bayi
  * Jam: 15.00
     SB: 37°c
     Nadi:144x/m.
     Respirasi:40x/m
  * Jam 17.00
     SB:36,5°c
     Nadi:140x/m
     Respirasi:64x/m

















-Menginspeksi kesi
  metrisan gerakan 
 dada pada saat
  mengukur tanda-
  tanda vital.
  * Gerakan dada
      Simetris.


Jam 14.00 WITA
-Melepaskan  aliran 
  Oksigen setelah
  pernafasan teratur.
Tgl 10/8-2006
Jam 18.00 WITA

S  : -
O: -Frekwensi perna fasan:
40 x / menit Retraksi hilang.

Pernafasan cu ping hi-
dung tidak ada
A : Setelah diberi pe rawatan
selama 48 jam
keefektifan pola nafas
sudah dapat diperta- han kan.

P : -
    
10/
8-06
jam
12.42

5

Resiko Tinggi   
terhadap perubahan nutrisi ; kurang dari kebutuhan tubuh, dengan faktor resiko meliputi :
- Melemahnya 
  refleks mencari, 
  menghisap dan
  menelan sekunder
  akibat stressor
  kelahiran
- Bayi rawat terpi-
  sah dengan ibu.
- Keterbatasan 
  masukan oral.
nutrisi sesuai kebutuhan tubuh dapat dipertahan kan.
Kriteria hasil :
Setelah perawatan
48 jam
-Gula darah tidak
  kurang dari 45   
  mg%pada 48 jam
  kelahiran. 

- Berat  Badan
  mulai naik
-Bayi menunjuk-
  kan peningkatan
  refleks mencari,
  menghisap dan
  menelan secara
  bertahap.


A. Mandiri
- Turunkan stressor  
  fisik seperti stress
  dingin, pergerakan  
  fisik dan pemaja-
  nan berlebihan  
  pada pemancar
  panas.














- Timbang berat
  badan setiap hari.















- Observasi bayi ter
  hadap tremor, irit-
  tabilitas, takipnoe,
  diaforesis,sianosis
  pucat dan aktifitas
  kejang.



- Auskultasi bising
  usus, perhatikan
  adanya distensi
  abdomen, adanya  
  tangisan lemah
  dan perilaku roo-
  ting / menghisap.


- Lakukan pembe-
  rian makan awal 
  dengan 5-15ml air
  steril, kemudian
  dekstrose 5% dan
  air, atau sesuai
  prosedur rumah
  sakit, berlanjut
  pada formula
  untuk bayi yang
  makan melalui
  botol (apabila kon
  disi umum bayi
  mulai membaik ).


















- Pantau warna,kon
  sentrasi dan frek-
  wensi berkemih.
















- Observasi bayi
  terhadap adanya
  indikasi masalah
 dalam pemberian    
  makanan ( misal
  nya; regurgitasi
  berwarna empedu,
  distensi abnormal,
  faeses abnormal,
  produksi mukus
  berlebihan, terse-
  dak atau menolak   
  makan ).

-Beri edukasi pada
  ibu tentang persi-
  apan menyusui                                                                                                                          























B. Kolaborasi
- Monitor kadar   
  gula darah 48jam
  lahir sesuai
  prosedur yang
  berlaku di RSU
  Bethesda GMIM
  Tomohon.





- Berikan ASI
  dengan segera
  melalui oral atau 
  intravena dengan
  kecepatan 80-120
  ml/kgBB/hari.

























- Monitor secara
  ketat intake output





- Hipotermia 
  meningkat -
  kan konsumsi
  energi dan
  penggunaan
  simpanan
  lemak coklat
  yang tidak
  dapat diperba
  harui. Untuk
  setiap 1°c
  peningkatan
  suhu tubuh,  
  kebutuhan
  metabolisme
  dan cairan
  meningkat
  kira-kira 10% 
 (Doenges,2001)


- Untuk menen
  tukan kebutu-
  han kalori
  dan cairan
  sesuai dengan
  berat badan
  dasar, yang
  secara normal
  menurun se-
  banyak < 5%
  pada 24 jam
  kelahiran ka-
  rena  keterba-
  tasan masu-
  kan oral.
(Berhman,1999)

- Menandakan  
  hipoglikemia
  yaitu kadar
  gula darah
  kurang dari
  45 mg/dl.
(Holloway,2003)


- Indikator me-
  nunjukkan ne
  onatus lapar /  
  siap untuk
  makan.




- Pemberian
  makan awal
  diruang pera-
  watan bayi  
  adalah untuk
  mengkaji ke-
  efektifan
  menghisap,
  menelan dan
  kepatenan
  esophagus,  
  bila terjadi
  aspirasi air  
  steril mudah  
  diabsorpsi 
  oleh jaringan
  paru.
  Pemberian
  makan awal
  membantu  
  memenuhi
  kebutuhan
  kalori dan cai
  ran, khusus-
  nya pada bayi
  yang laju me-
  tabolismenya
 100-200kalori  
 /kg/BB/24jam
( Bobak,2004).


- Kebutuhan
  cairan harian
  adalah antara
  140-160/kgBB
  /24jam. 
  Kehilangan
  cairan dan
  kurangnya
  masukan oral
  dengan cepat
  menghabis-
  kan cairan
  ekstraseluler
  dan mengaki
  batkan penu-
  runan halu-
  aran urine.
(Doenges,2001)

- Masalah-masa
  lah ini dapat  
  mengindikasi-
  kan obstruksi
  usus atau fistu
  la trakeoeso
  fangeal.
(Doenges,2001)






-Dukungan ter-  
 dap usaha ibu
 untuk meyusui
 terutama pada
 bayi pertama  
 menjadi faktor
 penting dalam  
 keberasilan me- 
 nyusui.


















- Pengukuran
  glukosa darah
  adalah untuk
  memantau ada
  nya hipoglike
  mia ( gula da-
  rah <45mg/dl)  
  yang membu-
  tuhkan inter-
  vensi lanjut.


- Bayi dengan
  kondisi asfik-
  sia memerlu-
  kan Asi setelah
  kondisi memba  
  ik untuk meme-  
  nuhi kebutuhan  
   nutrisi























- Mengetahui
  balans cairan
  dan kebutuhan
  intervensi
  selanjutnya.

  Jam 13.45 WITA
-Mempertahankan
  suhu incubator
  disesuaikan deng-
  an suhu tubuh 
   bayi
* Bayi dalam pera-
   watan incubator/
   pemantauan
   intensif.suhu inku
   bator 36°c







          


 Jam 06.00WITA
-Menimbang berat
 badan bayi.
 *BB 2690 gram














- Mengobservasi
  ketat F.T Bayi
  terhadap tremor,
  iritabilitas, takip-
  noe, disforesis,
  sianosis,pucat dan
  aktifitas kejang.

Jam 14.10WITA.
- Mengauskultasi
  bising usus dan
  memperhatikan
  adanya distensi
  abdomen, meng-
  amati tangisan
  bayi.

Jam 14.30 WITA
 -Memberi minum
   ASI 30cc melalui
   pipet ke mulut
   bayi.



























Jam 14.35 WITA
- Memonitor warna
  konsentrasi dan
  frekwensi berke-
  mih.
* F.T Bayi Bak 1 
   warna kuning,    
   volume 3cc.

     










- Memantau bayi
  terhadap adanya
  regurgitasi ber-
  warna empedu,
  distensi abdomen,
  faeses abnormal,
  produksi mukus
  berlebihan, terse-
  dak atau menolak
  makan selama
  dalam perawatan
  intensif kamar
  bayi.

- Mengatakan pada
   ibu bahwa bayi  
   mulai hari ini 
   akan diberi mi-
   num peroral.
- mengatakan pada
   ibu agar memper-
   hatikan nutrisi 
   ibu menyusui se-
   sesuai indikasi, 
    memeras ASI
   untuk diberikan
   pada bayi melalui
   pipet ke mulut
   bayi.
    * Ibu mengerti,  
       menerima dan
       mau melaksana
       kan apa yang  
      dianjurkan dan  
       tampak senang
       mendengar  
       tentang kondisi
       bayi yang sema
       kin membaik.

Jam 12.42 WITA
- Memeriksa kadar
  gula darah 48
   jam  lahir.
   *Hasil: 80 mg%







Jam 10.30 WITA
- Melakukan kola-
  borasi medik de-
  ngan Dr.Debby
  Rumbayan, SpA
  melalui telepon.
* Advis :
  IVFD Dextrose
  5% + Bicnat 7 te-
   tes/menit micro-  
   drips.teruskan
   sampai obat in-
   jeksi habis.

 -Mengontrol IVFD
  pada vena di leng-   
  an kiri.
  * IVFD terpasang
     baik.

Jam 16.00 WITA
-Penatalaksanaan
 Inj.salticin 10 mg/
 Intravena melalui
 Selang infuse.

Jam 17.00WITA
-Penatalaksanaan
 Inj. Cefotaxim 100
 Mg/ Intravena me- 
 lalui selang infuse

- Memantau secara
  ketat intake output
  selama bayi dalam  
  perawatan intensif


Tgl 10/08-2006
Jam 18.00 WITA
S :   -
O : - Gula darah  
48 jam            lahir : 80
mg %

Refleks hisap
dan menelan
baik.

A : Setelah perawa-
tan 48 jam lahir Nutrisi sesuai   kebutu- han tubuh dapat
diperta-
hankan. P: -
   

10/8
-06 jam 12.42

6.


Risiko terhadap   
infeksi Neonatus   dengan faktor   resiko meliputi :
-Belum matangnya
  sistem kekebalan
  tubuh terhadap
  infeksi pada neona  
  tus.

- Adanya jaringan
  terbuka yang be-
  lum sembuh pada
  pemotongan tali
  pusat.

 Infeksi Neonatus
tidak terjadi.
Kriteria hasil :
setelah 48 jam ke-
 lahiran
- Tidak ada tanda-
  tanda infeksi lo-
  kal dan sistemik.
- Tali pusat menun
  jukkan pemulihan
  tepat waktu
  secara bertahap.
- Tanda-tanda vital
  Sb:36,5-37°c.
  Nadi:120-160x/m
  Resp:30-60 x/m.

A. Mandiri
- Sikat dan cuci
  tangan dengan
  bersih sebelum
  memasuki ruang
  perawatan, setelah
  kontak dengan ma
  terial terkontami-
  nasi dan setelah/
  setiap memegang
  bayi.


- Batasi kontak  
  dengan bayi.











- Inspeksi kulit se-
   tiap hari terhadap 
   ruam atau kerusa-
   kan integritas  
   kulit.














- Kaji tali pusat dan
  area kulit pada da-  
  sar tali pusat seti-  
  ap hari dari ada -  
  nya kemerahan  
  bau atau rabas.
  Fasilitasi  penge-
  ringan melalui pe-  
  majanan pada uda  
  ra dengan melipat  
  popok kebawah  
  dan kemeja keatas
  puntung tali pusat.


- Mencuci
  tangan yang
  benar adalah
  faktor tunggal
  yang paling
  penting dalam
  melindungi
  bayi baru lahir
  dari infeksi.



- Membantu     
 mencegah kon
 taminasi silang
 terhadap bayi 
 melalui kontak
 langsung atau
 infeksi droplet.
(Doenges,2001)





- Kulit adalah
  barier imuni-
  tas non spesi-
  fik yang men-
  cegah invasi
  pathogen. Ba-  
  han kimia pada  
  produk perawa- 
  tan kulit yang  
  digunakan da -  
  pat membuat  
  kulit
  cenderung me-
  ngalami ruam
 atau kerusakan
(Doenges,2001)
 


- Meningkatkan
  Pengeringan
  dan meningkat
  kan percepatan  
  penyembuhan  
  luka dan meng  
  hilangkan me- 
  dia lembab un-
  tuk pertumbu-  
  han bakteri.








- Melaksanakan pro
  sedur pencucian
  tangan sebelum
  melakukan kontak
  dan setelah meme-
  gang bayi dan se-
  tiap selesai kontak
  dengan materi
  terkontaminasi.


 Jam 13.45 WITA
- Membatasi kontak
  dengan bayi dan  
  membatasi jumlah
  pengunjung hanya  
  ayah bayi yang bo
  leh membesuk pa
  da waktu tertentu
  sesuai dengan
  Prosedur RSU
  Bethesda GMIM
  Tomohon.
* Kontak dibatasi.

- Menginspeksi
  kulit bayi setiap
  hari  dan membata
  si penggunaan
  produk perawatan
  kulit yang tidak
  sesuai dengan
  kulit bayi.
* Tidak ada ruam
  atau kerusakan
  integritas kulit.







 Jam:10.00 WITA
- Menginspeksi dan
  mencium bau tali
  pusat .
 * Tali pusat sudah
    mengerut 48 jam
    setelah lahir, ma-  
    sih lembab,
    tidak ada perda-  
    rahan,nanah dan  
    tanda-tanda  ra - 
    dang lokal.
- Mengganti balut-
   an gaas pada tali
   pusat dengan ga-
   as Alkohol 70%
   baru.
- Mengajakan pada
  ibu tentang cara
  merawat talipusat
  dan cara ganti  
  popok dengan  
  cara memperlihat-
  kan pada ibu saat
  balutan gaas digan
  ti (bayi masih da-
  lam incubator)
Tgl 10/08-2006
Jam 20.00 WITA
S :  -
O:
-Tali   
 pusat
 mulai mengerutmasih  
basah, tidak
ada per- darahan, nanah 
serta tanda-
tanda radang
lokal, tidakbau. - Sb:37  
  °c.
 - N:144  
    x/m.
 - R:40  
    x/m.

A:
Bayi tidak me nunjuk -kan ada nya tanda-
tanda infeksi
neonatus pada 48 jam per-  
tama kelahiran P : -